BANYUWANGI, Selendangsutra.id – Suasana penuh khidmat, keberkahan, dan kekeluargaan menyelimuti Pondok Pesantren (Ponpes) Mansya’ul Huda, Dusun Gempoldampit, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (30/10/2026) sore.

Keluarga besar Ponpes Mansya’ul Huda menerima kunjungan silaturahmi ulama dari Mesir, yakni Imam Besar dan Khatib Masjid Al-Azhar Kairo, Dr. As-Syeikh Zakaria Muhammad Marzuki Al Husaini Al Hasani Al Azhari, yang disambut langsung oleh pengasuh pesantren, KH. Fathulloh Suyuti Thoha, bersama keluarga besar pesantren, tokoh agama, serta unsur TNI-Polri.

Kunjungan yang berlangsung sekitar pukul 16.00 WIB tersebut bukan sekadar pertemuan antartokoh agama, melainkan menjadi momentum berharga dalam mempererat tali persaudaraan ulama lintas negara, memperkuat tradisi keilmuan Islam, serta meneguhkan peran pesantren sebagai benteng pendidikan akhlak, dakwah, dan pembinaan umat.

Dalam tradisi pesantren, silaturahmi dengan para masyayikh dan ulama merupakan bagian dari adab menuntut ilmu. Sebab, ilmu tidak hanya diwariskan melalui kitab dan pengajaran, tetapi juga melalui keteladanan, penghormatan, serta keberlanjutan sanad keilmuan dari generasi ke generasi.

Kedatangan ulama dari Mesir tersebut disambut hangat oleh KH. Fathulloh Suyuti Thoha selaku Pengasuh Ponpes Mansya’ul Huda. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Danramil 0825/09 Tegaldlimo yang diwakili Batituud Peltu Harun Rofiq, Kapolsek Tegaldlimo AKP Sadimun, S.H., Babinsa Desa Kedungwungu Kopka Khoirul Anam, serta Bhabinkamtibmas Desa Kedungwungu yang diwakili Kanit Intel Aiptu Hasan Hadi.
Hadir pula KH. Ibnu Sodik Fahim, KH. Khusnan Thoha, keluarga besar Ponpes Mansya’ul Huda, para tokoh agama, tokoh masyarakat, serta para santri.

Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan eratnya hubungan silaturahmi antara ulama, umara, aparat keamanan, dan masyarakat dalam menjaga kerukunan serta keharmonisan kehidupan berbangsa dan beragama.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan Dr. As-Syeikh Zakaria Muhammad Marzuki Al Husaini Al Hasani Al Azhari beserta rombongan. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan kegiatan Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal-Khitoh Indonesia yang dipimpin langsung oleh Mursyidul’am KH. Fathulloh Suyuti Thoha. Lantunan dzikir dan doa yang dipanjatkan menjadi bagian dari ikhtiar spiritual untuk memohon perlindungan Allah SWT, keselamatan bangsa dan negara, serta terciptanya kehidupan masyarakat yang damai, rukun, dan penuh keberkahan.

Setelah kegiatan dzikir, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan dialog dalam suasana penuh keakraban. Para tamu juga berkesempatan meminta doa melalui air mineral yang dibawa masing-masing sebagai bagian dari tradisi dan ikhtiar spiritual yang berkembang di lingkungan jamaah. Suasana semakin hangat ketika seluruh tamu undangan bersama keluarga besar pesantren mengabadikan momentum tersebut melalui foto bersama.

Salah satu pembahasan menarik dalam pertemuan tersebut adalah mengenai keberlangsungan kegiatan Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal-Khitoh Indonesia yang juga akan dilaksanakan di Mesir.

Melalui juru penerjemah, disampaikan kepada KH. Fathulloh Suyuti Thoha bahwa kegiatan dzikir Nurul Wathon secara rutin diselenggarakan di Mesir setiap malam Jumat. Kegiatan tersebut memiliki tujuan mulia, yakni memanjatkan doa untuk keselamatan bangsa dan negara Mesir sekaligus mendoakan bangsa Indonesia agar senantiasa diberikan perlindungan, kedamaian, persatuan, dan keberkahan oleh Allah SWT.
Melalui juru penerjemah pula, Imam dan Khatib Masjid Al-Azhar Kairo tersebut menyampaikan harapan agar kegiatan Dzikir Nurul Wathon yang dilaksanakan di Indonesia turut mendoakan keselamatan bangsa dan negara Mesir. Permohonan tersebut menjadi gambaran indah tentang persaudaraan umat Islam yang tidak dibatasi oleh perbedaan wilayah dan kewarganegaraan. Doa menjadi jembatan persatuan, sementara dzikir menjadi ikhtiar batin untuk menjaga kedamaian dan keselamatan bersama.

Pengasuh Ponpes Mansya’ul Huda, KH. Fathulloh Suyuti Thoha, menyampaikan bahwa silaturahmi antar ulama merupakan bagian penting dalam menjaga persaudaraan Islam, memperkuat tradisi keilmuan, serta menumbuhkan semangat menuntut ilmu di lingkungan pesantren.
Menurutnya, kehadiran ulama dari Mesir yang memiliki pengalaman dalam bidang keilmuan, dakwah, dan pengabdian keagamaan menjadi kehormatan sekaligus kesempatan berharga bagi keluarga besar Ponpes Mansya’ul Huda.
Silaturahmi semacam ini juga menjadi pengingat bahwa pesantren memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga warisan keilmuan Islam, menanamkan adab kepada para santri, serta meneruskan dakwah yang santun, menyejukkan, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
Nilai tawadhu, penghormatan kepada guru dan ulama, serta semangat menjaga ukhuwah Islamiyah merupakan bagian dari karakter pendidikan pesantren yang terus diwariskan kepada generasi penerus bangsa.
Setelah seluruh rangkaian silaturahmi, dzikir, doa, dan ramah tamah selesai dilaksanakan, Dr. As-Syeikh Zakaria Muhammad Marzuki Al Husaini Al Hasani Al Azhari bersama rombongan berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ziarah.
Adapun lokasi yang menjadi tujuan ziarah adalah makam Mbah Mangil, ulama sepuh yang merupakan kakak kandung KH. Fathulloh Suyuti Thoha, serta makam Waliyullah Hasan Basri di kawasan Sumber Kepuh. Ziarah tersebut menjadi bagian dari penghormatan terhadap para pendahulu dan ulama yang telah memberikan kontribusi dalam perjalanan dakwah serta kehidupan keagamaan masyarakat.
Dalam tradisi pesantren, ziarah juga menjadi sarana mengingat kematian, meneladani perjuangan para ulama, dan menumbuhkan kesadaran bahwa perjuangan dakwah harus terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Momentum kunjungan ulama dari Mesir ke Ponpes Mansya’ul Huda menjadi gambaran bahwa pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, melainkan juga ruang pertemuan peradaban, persaudaraan, dan penguatan nilai-nilai kebangsaan.
Pertemuan tersebut diharapkan semakin mempererat hubungan keilmuan dan persaudaraan umat Islam Indonesia-Mesir, sekaligus memperkuat semangat mendoakan keselamatan bangsa, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan membangun kehidupan masyarakat yang damai serta berakhlakul karimah.
