JOMBANG, Selendangsutra.id – Peluang kerja di Jepang menjadi perhatian baru bagi dunia pesantren. Ikatan Santri Nusantara melihat kebutuhan tenaga kerja di Jepang sebagai peluang bagi santri Indonesia untuk meningkatkan kualitas pendidikan, menguasai bahasa asing, dan memasuki pasar kerja global. Gagasan ini mencuat setelah Ikatan Santri Nusantara menyimak diskusi bersama KH Matyudi Suud mengenai gebrakan pendidikan di Pondok Black Stones, Ciputat.
Dalam program tersebut, para santri mendapatkan pembekalan bahasa Jepang selama sekitar tiga bulan sebagai salah satu persiapan menuju dunia kerja di Jepang. Pembekalan bahasa tersebut kemudian dapat dikembangkan dengan pendidikan keterampilan sesuai kebutuhan individu.
Ikatan Santri Nusantara menilai langkah ini sangat penting karena persaingan tenaga kerja global semakin terbuka. Santri tidak cukup hanya memiliki ilmu agama, tetapi juga perlu menguasai bahasa asing, keterampilan profesional, teknologi, serta budaya kerja internasional. Jepang sendiri menghadapi tantangan demografi dan kekurangan tenaga kerja di sejumlah sektor. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan dapat memenuhi persyaratan kerja secara resmi.
Santri Harus Siap Bersaing Secara Global
Ikatan Santri Nusantara melihat pesantren memiliki potensi besar menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia. Pendidikan bahasa Jepang dapat dipadukan dengan pelatihan kejuruan seperti manufaktur, perawatan pertanian perhotelan, konstruksi, permesinan, dan sektor industri lainnya sesuai kebutuhan pasar.
Namun, keberangkatan santri ke Jepang harus dilakukan melalui jalur resmi, dengan pembekalan yang memadai, perlindungan tenaga kerja, serta pemahaman mengenai hak dan kewajiban pekerja. “Kami melihat ini sebagai peluang besar yang perlu didalami lebih lanjut. Santri harus mampu menjadi tenaga profesional yang siap bersaing di pasar global, tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai pesantren,” demikian gagasan Ikatan Santri Nusantara.
Program seperti ini juga dapat memberikan manfaat jangka panjang. Santri yang memperoleh pengalaman bekerja di Jepang nantinya dapat membawa pulang ilmu, kedisiplinan, teknologi, dan pengalaman industri untuk dikembangkan di Indonesia.
Dari pesantren menuju pasar global. Dari Jepang kembali membawa pengalaman untuk membangun negeri.
Ikatan Santri Nusantara menilai, sudah saatnya pesantren tidak hanya mencetak generasi yang kuat secara spiritual, tetapi juga profesional, kompeten, dan mampu bersaing di dunia internasional.
(HR DODY)
