JAKARTA, Selendangsutra.id – Aksi mahasiswa di ibu kota kembali menjadi perhatian publik. Berbagai tuntutan disuarakan, termasuk persoalan kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) dan harga bahan bakar minyak (BBM) non- subsidi. Demonstrasi merupakan bagian dari demokrasi. Namun, kritik akan jauh lebih kuat apabila disertai gagasan dan solusi yang mampu menjawab persoalan rakyat, terutama mereka yang hidup jauh dari pusat kekuasaan.
Di sisi lain, di berbagai pelosok negeri, para santri memilih jalan yang berbeda. Mereka berkumpul dalam doa dan zikir, memohon agar bangsa Indonesia diberikan keselamatan serta para pemimpinnya diberikan kekuatan dan kebijaksanaan dalam menjalankan amanah. Di sinilah wajah Indonesia terlihat dari dua sisi: suara yang lantang di jalan dan doa yang khusyuk di pesantren.
Tidak semua anak Indonesia memiliki kesempatan menikmati pendidikan dengan fasilitas yang lengkap. Di sejumlah daerah terpencil, masih ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagi sebagian anak, pesantren justru menjadi tempat mereka memperoleh pendidikan, pembinaan karakter, sekaligus tempat mendapatkan makan dan kehidupan yanih terarah.
Karena itu, jangan sampai bangsa ini hanya mengukur masa depan dari siapa yang paling lantang berbicara. Bangsa membutuhkan generasi yang mampu berbicara, berpikir, bekerja, berakhlak, dan memberikan solusi.
Mahasiswa tentu memiliki posisi penting sebagai kelompok intelektual muda. Namun, para santri juga memiliki potensi besar yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Mereka tidak hanya belajar agama. Santri hari ini harus didorong menjadi profesional di bidang teknologi, ekonomi, pertanian, energi, kesehatan, pendidikan, hukum, pemerintahan, berbagai bidang strategis lainnya.
Saatnya santri bangkit.
Santri tidak harus berada di belakang. Santri harus mampu berdiri sejajar dalam kompetisi pendidikan global, tanpa kehilangan nilai agama dan akhlak. NU dan seluruh elemen pesantren memiliki momentum besar untuk memperkuat pesan bahwa pendidikan adalah fondasi utama kebangkitan bangsa. Indonesia membutuhkan pendidikan yang tidak membedakan anak kota dan anak desa, anak pesantren dan anak sekolah umum. Semua anak bangsa berhak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh dan menjadi manusia berkualitas.
Dari pesantren, lahir pemimpin yang belajar memahami penderitaan rakyat. Dari kampus, lahir intelektual yang mengembangkan gagasan. Dari keduanya, Indonesia seharusnya membangun satu kekuatan besar: generasi berilmu, berakhlak, profesional, dan mampu menyelesaikan persoalan bangsa.
Ikatan Santri Nusantara menyerukan agar momentum ini menjadi kebangkitan bersama. Bukan mahasiswa melawan santri. Bukan santri melawan mahasiswa. Tetapi mahasiswa dan santri bersama-sama membangun Indonesia. Sebab masa depan bangsa tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras berteriak, melainkan oleh siapa yang mampu menghadirkan ilmu, solusi, keteladanan, dan pengabdian nvata kepada rakvat.
Saatnya santri bangkit. Saatnya pendidikan menjadi jalan utama menuju Indonesia yang maju, berdaulat, dan bermartabat.
(HR DODY)
