ACEH, Selendangsutra.id – Aceh memiliki banyak kekayaan sejarah yang belum sepenuhnya dikembangkan menjadi kekuatan pariwisata. Salah satu yang paling unik adalah keberadaan masyarakat yang dikenal sebagai “Si Mata Biru” dari Lamno, Kabupaten Aceh Jaya. Sebagian masyarakat di kawasan Lamno sejak lama dikenal memiliki ciri fisik yang berbeda, seperti mata berwarna biru atau kebiruan, kulit lebih terang, hidung mancung, serta sejumlah karakteristik fisik yang sering dikaitkan dengan jejak percampuran penduduk lokal dengan bangsa Eropa pada masa lalu.
Lamno dan wilayah bekas Kerajaan Daya menyimpan cerita panjang tentang hubungan Aceh dengan bangsa-bangsa asing melalui jalur perdagangan laut. Salah satu cerita yang berkembang di masyarakat menyebutkan adanya bangsa Portugis yang pernah datang dan kemudian berbaur dengan bangsa-bangsa asing melalui jalur perdagangan laut. Salah satu cerita yang berkembang di masyarakat menyebutkan adanya bangsa Portugis yang pernah datang dan kemudian berbaur dengan masyarakat setempat. Dari proses panjang percampuran antargenerasi inilah muncul komunitas yang kemudian dikenal sebagai Si Mata Biru Lamno.
Misteri Genetik yang Perlu Diteliti
Fenomena mata biru Lamno bukan sekadar cerita menarik, tetapi dapat menjadi objek penelitian serius dalam bidang sejarah, antropologi, genetika populasi dan migrasi manusia. Penelitian akademik yang ada menunjukkan bahwa identitas “keturunan Portugis” di Aceh Jaya merupakan identitas yang berkembang melalui sejarah dan konstruksi sosial masyarakat Lamno. Karena itu, penelitian DNA secara sukarela dan sesuai etika ilmiah dapat menjadi langkah menarik untuk mempelajari sejarah migrasi dan percampuran masyarakat di kawasan tersebut secara lebih mendalam.
Penelitian tersebut, apabila dilakukan oleh perguruan tinggi dan lembaga penelitian yang kompeten, dapat menjawab berbagai pertanyaan sejarah tanpa menjadikan ciri fisik masyarakat masyarakat sebagai objek eksploitasi.
Di Daerah Mana Mata Biru Lamno Dapat Dikembangkan?
Pengembangan wisata sejarah dan budaya dapat difokuskan di kawasan Lamno dan wilayah Negeri Daya, khususnya di Kabupaten Aceh Jaya. Beberapa wilayah yang memiliki hubungan dengan sejarah komunitas tersebut antara lain kawasan Kuala Daya, Ujong Muloh, Lambeso/Lambeuso, Teumareum, serta sejumlah gampong di kecamatan Jaya dan Indra Jaya. Data pemerintah Kabupaten Aceh Jaya juga menunjukkan wilayah Kecamatan Jaya dan Indra Jaya memiliki sejumlah mukim dan gampong yang dapat menjadi bagian dari pengembangan wisata sejarah-budaya secara terintegrasi.
1. Kampung Sejarah Negeri Daya
Membangun pusat informasi mengenai sejarah Kerajaan Daya, perdagangan internasional dan hubungan Aceh dengan dunia luar.
2. Museum Si Mata Biru Lamno
Museum dapat menampilkan sejarah masyarakat, migrasi, budaya, pakaian tradisional, dokumentasi keluarga, cerita lisan dan sejarah lokal.
3. Pusat Riset Sejarah dan Genetika Aceh
Perguruan tinggi dapat melakukan penelitian sejarah populasi secara ilmiah dan bereti’ *entunya dengan persetuiuarı masvarakat.
4. Wisata Edukasi Lamno
Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat pantai, tetapi juga mempelajari sejarah peradaban dan keberagaman masyarakat Aceh.
5. Festival Budaya Negeri Daya
Festival tahunan dapat menampilkan seni, budaya, kuliner, sejarah maritim dan kisah hubungan Aceh dengan bangsa-bangsa asing. Terhubung dengan Wisata Geurutee potensi wisata Mata Biru Lamno juga dapat dihubungkan dengan destinasi alam di Aceh Jaya, terutama kawasan Geurutee dan sekitarnya. Pemerintah Aceh Jaya memiliki arah pengembangan kawasan wisata sejarah dan budaya Negeri Daya serta ekowisata di kawasan Geurutee dan sekitarnya.
Dengan demikian, wisatawan dapat menikmati paket perjalanan:
Banda Aceh → Geurute→ Lamno → Negeri Daya → Wisata Sejarah → Kuliner Aceh → Wisata Pesisir Aceh Jaya.
Keunikan masyarakat Mata Biru Lamno seharusnya tidak hanya menjadi cerita viral di media sosial. Dengan penelitian yang benar dan pengembangan pariwisata yang menghormati masyarakat lokal, Lamno dapat menjadi salah satu ikon wisata sejarah dan budaya Aceh. Namun, pengembangan tersebut harus tetap mengedepankan martabat masyarakat setempat. Mata Biru Lamno bukan sekadar objek tontonan, melainkan bagian dari sejarah panjang perjumpaan manusia, perdagangan dan peradaban di Aceh. Mata Biru Lamno bukan sekadar objek tontonan, melainkan bagian dari sejarah panjang perjumpaan manusia, perdagangan dan peradaban di Aceh.
“Lamno bukan hanya tentang mata biru. Lamno adalah tentang sejarah Aceh yang pernah menjadi bagian dari peradaban dunia.” Jika dikembangkan dengan serius, Mata Biru Lamno dan Sejarah Negeri Daya berpotensi menjadi destinasi wisata budaya, sejarah, edukasi dan penelitian yang memperkuat ekonomi masyarakat Aceh Jaya.
(DIK)
