JOMBANG, Selendangsutra.id – Dinamika menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama terus menjadi perhatian warga nahdliyin di berbagai daerah. Informasi dan perkembangan yang beredar melalui media sosial serta jaringan warga NU menunjukkan komunikasi dan konsolidasi terus dilakukan oleh berbagai kelompok untuk memperkuat dukungan terhadap tokoh-tokoh yang dianggap mampu membawa NU smakin maju.
Dukungan terhadap KH Said Aqil Siradj disebut semakin menguat di tengah dinamika Muktamar. Bersamaan dengan itu, tim pendukung Gus Yunus terus melakukan komunikasi, silaturahmi dan konsolidasi dengan jaringan warga nahdliyin di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Gus Dody bersama Tim Berita Santri, konsolidasi dilakukan melalui komunikasi dengan berbagai tokoh, ulama, kiai, pesantren,santri serta jaringan warga NU di sejumlah daerah. Wilayah yang menjadi perhatian dalam konsolidasi tersebut antara lain Aceh, Nusa Tenggara Barat, sejumlah wilayah Sumatera, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Konsolidası Daeran Terus Diperkuat
Gus Dody mengatakan, kekuatan besar Nahdlatul Ulama berada pada akar rumput. Pesantren, ulama, santri dan warga nahdliyin di daerah merupakan kekuatan utama yang selama ini menjaga NU tetap besar dan berpengaruh dalam kehidupan bangsa Indonesia. “Tim terus melakukan komunikasi dan silaturahmi dengan berbagai daerah. Aspirasi warga nahdliyin dari Aceh, NTB, Sumatera, Sulawesi hingga Kalimantan menjadi bagian penting dalam melihat masa depan NU,” ujar Gus Dody bersama Tim Berita Santri.
Menurutnya, konsolidasi bukan semata-mata berbicara tentang kontestasi, tetapi juga tentang membangun kesamaan visi dalam menjaga NU sebagai organisasi besar yang memiliki tanggung jawab terhadap umat, pesantren dan bangsa Indonesia. “NU harus tetap menjadi rumah besar bagi seluruh warga nahdliyin. Perbedaan pandangan dan pilihan adalah bagian dari dinamika organisasi, tetapi persatuan harus tetap menjadi kekuatan utama.” katanya.
KH Said Aqil Siradj Dinilai Memiliki Pengalaman Panjang
Nama KH Said Aqil Siradj menjadi salah satu tokoh yang terus mendapat perhatian dalam dinamika warga nahdliyin. Pengalaman panjangnya dalam dunia organisasi, pemikiran keislaman dan kebangsaan menjadi salah satu alasan munculnya dukungan dari berbagai kalangan.
Menurut Gus Dody, generasi pesantren membutuhkan figur kepemimpinan yang mampu menjaga tradisi sekaligus menghadapi perubahan zaman. “NU menghadapi tantangan besar ke depan. Dunia pendidikan, ekonomi umat, teknologi, pesantren dan perubahan global membutuhkan pemimpin yang memiliki pengalaman, jaringan serta kemampuan membangun persatuan,” ujarnya.
Aspirasi Warga NU dari Berbagai Daerah
Konsolidasi di sejumlah provinsi menjadi bagian dari upaya menyerap aspirasi warga nahdliyin. Aceh memiliki tradisi keislaman dan pendidikan pesantren yang kuat. NTB juga dikenal memiliki jaringan pesantren yang luas. Sementara Sumatera, Sulawesi Selatan serta wilayah Kalimantan memiliki basis warga nahdliyin yang terus berkembang.
Gus Dody menilai seluruh kekuatan tersebut harus dipersatukan dalam semangat kebersamaan. “Tidak boleh ada daerah yang merasa ditinggalkan. Suara warga NU dari daerah harus menjadi bagian dari perjalanan besar organisasi,” katanya.
Tim Berita Santri berharap dinamika Muktamar tetap berlangsung dalam suasana damai, penuh kekeluargaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai pesantren. Muktamar, menurut Gus Dody, harus menjadi momentum untuk memperkuat persatuan warga nahdliyin, bukan justru menciptakan perpecahan.
“Siapa pun yang nantinya mendapatkan amanah, NU harus semakin kuat. Yang paling penting adalah bagaimana organisasi ini terus memberikan manfaat bagi umat, bangsa dan negara,” ujarnya.
Gus Dody menegaskan bahwa konsolidasi yang dilakukan tim pendukung Gus Yunus akan terus berjalan melalui komunikasi dengan jaringan daerah. “Semangat kami adalah memperkuat komunikasi dan persatuan. NU adalah kekuatan besar bangsa. Karena itu, seluruh proses harus dijalankan dengan akhlak, musyawarah dan semangat persaudaraan,” tutupnya.
“Semangat kami adalah memperkuat komunikasi dan persatuan. NU adalah kekuatan besar bangsa. Karena itu, seluruh proses harus dijalankan dengan akhlak, musyawarah dan semangat persaudaraan,” tutupnya.
(HR DODY)
