JOMBANG, Selendangsutra.id – Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang menjadi momentum penting untuk membaca kembali arah perjalanan organisasi ke depan. Di tengah perubahan sosial, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan yang semakin kompleks, NU membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya berbicara mengenai posisi politik, tetapi mampu membangun kekuatan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Salah satu figur yang menarik perhatian adalah Gus Yusuf Chudlori. Kiprahnya di lingkungan NU membuat namanya kerap dibicarakan dalam konteks masa depan organisasi, termasuk bagaimana NU dapat memainkan peran yang lebih besar dalam pembangunan bangsa. Namun, tantangan NU ke depan sesungguhnya bukan semata-mata siapa yang menjadi Ketua Umum atau siapa yang mendapatkan posisi strategis di pemerintahan.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apa yang mampu dibangun NU untuk generasi Indonesia berikutnya?
Selama perjalanan sejarah Indonesia, NU memiliki hubungan yang sangat kuat dengan dinamika politik nasional. Banyak kader NU mengisi berbagai posisi strategis di pemerintahan, parlemen maupun lembaga negara. Tetapi NU memiliki modal sosial yang jauh lebih besar daripada sekadar kekuatan politik.
NU memiliki pesantren, madrasah, perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga pendidikan, koperasi, jaringan ulama, santri, serta jutaan warga yang tersebar dari tingkat nasional. Jika seluruh potensi tersebut dikelola secara profesional dan terintegrasi, NU dapat menjadi salah satu kekuatan masyarakat sipil terbesar di Indonesia.
Karena itu, Muktamar di Jombang seharusnya menjadi titik balik: NU tidak boleh berhenti pada politik kekuasaan, tetapi harus masuk lebih dalam ke politik pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Gus Yusuf dan Gagasan NU yang Lebih Besar Dalam konteks tersebut, figur seperti Gus Yusuf dapat didorong untuk membawa gagasan yang lebih luas tentang masa depan NU. Bukan sekadar mengejar posisi Ketua Umum. Bukan pula menjadikan kepemimpinan NU sebagai jalan menuju kursi kabinet. Dan bukan menjadikan Rais Aam atau struktur organisasi sebagai bagian dari siklus politik lima tahunan. Yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang mampu menjadikan NU sebagai kekuatan pembangunan bangsa.
Pendidikan dapat menjadi salah satu prioritas utama. NU memiliki ribuan pesantren dan lembaga pendidikan. Tantangannya adalah bagaimana pendidikan tersebut naik kelas: memiliki standar manajemen modern, penguasaan teknologi, kemampuan bahasa asing, pendidikan vokasi, riset, serta koneksi dengan dunia industri.
Bayangkan jika NU memiliki jaringan universitas bertaraf internasional, rumah sakit pendidikan, pusat riset, sekolah vokasi, hingga lembaga beasiswa yang terintegrasi dari pesantren sampai perguruan tinggi. Maka NU tidak hanya mencetak santri yang memahami agama, tetapi juga dokter, insinyur, ekonom, ilmuwan, pengusaha, profesional teknologi dan pemimpin bangsa.
Kesehatan: Dari Rumah Sakit NU Menjadi Jaringan Kesehatan Nasional Bidang kesehatan juga memiliki peluang besar.
NU tidak cukup hanya memiliki rumah sakit atau klinik secara terpisah. Ke depan diperlukan sebuah ekosistem kesehatan NU yang profesional dan terintegrasi. Mulai dari klinik di tingkat masyarakat, rumah sakit regional, rumah sakit pendidikan, pusat kesehatan ibu dan anak, layanan kesehatan pesantren, hingga pengembangan tenaga medis dari kalangan santri.
Kesehatan Nu dapat menjadi salan satu kontribusi terbesar organisasi kepada masyarakat Indonesia. Di sinilah ukuran keberhasilan kepemimpinan NU harus dilihat: bukan dari berapa banyak kader yang masuk kabinet, tetapi dari berapa banyak masyarakat yang mendapatkan pendidikan lebih baik, layanan kesehatan lebih baik, pekerjaan lebih baik, dan kehidupan yang lebih sejahtera. NU Harus Menjadi Kekuatan Ekonomi Rakyat selain pendidikan dan kesehatan, kemandirian ekonomi juga harus menjadi agenda dasar.
Kekuatan tersebut tidak harus berhadap-hadapan dengan negara ataupun kelompok ekonomi lain. Justru NU dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun ekonomi rakyat. Dengan demikian, politik NU tidak lagi hanya berbicara mengenai siapa mendapatkan jabatan, tetapi mengenai apa yang dapat diberikan NU kepada bangsa.
Muktamar Jombang Harus Melahirkan Peta Jalan Baru. Muktamar NU di Jombang seharusnya menghasilkan sebuah peta jalan jangka panjang. Misalnya, agenda 10, 20 hingga 30 tahun untuk membangun:
pendidikan NU bertaraf nasional dan internasional;
Jaringan rumah sakit dan kesehatan NU;
Ekonomi dan koperasi warga NU;
Pengembangan teknologi dan digitalisasi pesantren;
Beasiswa bagi santri berprestasi;
Pusat riset dan inovasi;
Penguatan pesantren sebagai pusat pemberdayaan masyarakat;
Kaderisasi profesional dan kepemimpinan
Dengan agenda seperti itu, siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin NU akan memiliki pekerjaan yang jelas dan terukur. Karier Politik Harus Menjadi Jalan Pengabdian Bagi kader seperti Gus Yusuf Chudlori, perjalanan politik seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari pengabdian, bukan tujuan akhir. Jika suatu saat kader NU dipercaya berada di kabinet atau menduduki jabatan negara, maka posisi tersebut harus menjadi instrumen untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat luas.
Ketua Umum bukanlah tujuan akhir. Rais Aam bukanlah tujuan akhir. Jabatan politik bukanlah tujuan akhir.
Tujuan akhirnya adalah kemaslahatan umat dan kemajuan bangsa. Gagasan inilah yang penting dibawa dalam Muktamar Jombang: NU harus berani keluar dari paradigma lama yang terlalu sering menjadikan organisasi sebagai kendaraan menuju kekuasaan politik.
NU mempunyai kapasitas yang jauh lebih besar. Dari Jombang untuk Indonesia Jombang memiliki nilai sejarah yang sangat kuat bagi NU. Karena itu, Muktamar di Jombang dapat menjadi simbol dimulainya babak baru. Babak ketika NU tidak hanya dihormati karena jumlah warganya, tetapi diperhitungkan karena kualitas institusinya.
Tidak hanya memiliki banyak pesantren, tetapi memiliki pendidikan unggulan.
Tidak hanya memiliki rumah sakit, tetapi membangun sistem kesehatan yang kuat.
Tidak hanya memiliki warga yang besar, tetapi memiliki kekuatan ekonomi yang mandiri.
Tidak hanya melahirkan tokoh politik, tetapi melahirkan generasi ilmuwan, profesional, pengusaha dan pemimpin dunia.
Dalam kerangka itulah, perjalanan Gus Yusuf Chudlori dan kader-kader NU lainnya layak dibaca lebih luas. Pertarungan sesungguhnya bukan tentang siapa yang duduk di kursi tertinggi organisasi. Pertarungan sesungguhnya adalah apakah NU mampu menjadi kekuatan besar masyarakat sipil yang ikut menentukan masa depan Indonesia. Dan Muktamar Jombang dapat menjadi momentum untuk memulai perubahan tersebut.
NU tidak harus mengejar kekuasaan. NU harus membangun kekuatan. Sebab ketika pendidikan kuat, kesehatan kuat, ekonomi umat kuat dan kaderisasi kuat, maka secara otomatis NU akan menjadi kekuatan yang diperhitungkan dalam perjalanan bangsa Indonesia.
