JOMBANG, selendangsutra.id , Muktamar Nahdlatul Ulama di Jombang bukan sekadar agenda memilih kepemimpinan baru. Lebih dari itu, muktamar harus menjadi momentum lahirnya arah baru organisasi Islam terbesar di Indonesia agar mampu menjawab tantangan zaman dan memperkuat perannya sebagai pilar kemajuan bangsa. Dengan jumlah warga nahdliyin yang mencapai puluhan juta orang, NU memiliki modal sosial, intelektual, ekonomi, dan budaya yang sangat besar. Potensi ini seharusnya tidak hanya menjadi kekuatanan moral dan politik tetapi juga meniadi kekuatan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan umat.
Sudah saatnya NU membangun kemandirian melalui langkah-langkah strategis yang terukur. Organisasi sebesar NU tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perkembangan ekonomi nasional, tetapi harus menjadi pelaku utama yang mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi syariah, dan menghadirkan manfaat nyata bagi seluruh masyarakat.
Salah satu gagasan yang patut dipertimbangkan adalah memperkuat sektor keuangan syariah. NU dapat mendorong penguatan lembaga keuangan syariah melalui kemitraan strategis, investasi, atau bentuk kerja sama lain yang sesuai dengan ketentuan hukum dan regulasi. Tujuannya bukan semata memiliki institusi keuangan, tetapi memastikan masyarakat kecil, pesantren, pelaku UMKM, petani, nelayan, dan santri memperoleh akses pembiayaan yang mudah, sehat, dan berlandaskan prinsip syariah.
Di bidang pelayanan ibadah, jutaan warga NU setiap tahun menunaikan ibadah umrah dan haji. Ini menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang dapat dikelola secara profesional. NU dapat mengembangkan ekosistem layanan haji dan umrah yang terintegrasi, termasuk biro perjalanan, pelatihan manasik, layanan kesehatan, serta menjajaki kemitraan di sektor transportasi udara sesuai dengan kemampuan, regulasi, dan kelayakan bisnis. Pengelolaan yang profesional akan memberikan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan bagi jamaah haji.
Sumber daya alam yang dikelola badan usaha yang berafiliasi dengan NU juga perlu menjadi perhatian. Apabila terdapat amanah atau kesempatan mengelola sumber daya ekonomi, maka tata kelola yang transparan, profesional, akuntabel, dan berbasis kompetensi harus menjadi prioritas. Kekuatan organisasi sebesar NU harus diwujudkan melalui manajemen modern yang berorientasi pada keberlanjutan, bukan hanya bergantung pada besarnya aset.

Di sektor pendidikan, NU sesungguhnya memiliki ribuan pesantren, sekolah, dan perguruan tinggi. Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar memperbanyak jumlah lembaga pendidikan, tetapi meningkatkan kus hingga mampu bersaing di tingkat internasional. NU perlu memperkuat kerja sama akademik berkualitas dunia, termasuk perguruan nggi terkemuka di Timur Tengah seperti Universitas Al-Azhar maupun institusi pendidikan global lainnya, guna mempercepat peningkatan kualitas riset, inovasi, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia.
Di bidang kesehatan, warga NU yang sangat besar membutuhkan jaringan rumah sakit modern dengan pelayanan profesional, teknologi medis yang mutakhir, serta biaya yang terjangkau. Rumah sakit NU dapat menjadi pusat pelayanan kesehatan, pendidikan kedokteran, dan penelitian medis yang mampu bersaing dengan rumah sakit terbaik di kawasan Asia Tenggara.
Penguatan ekonomi NU juga harus diarahkan pada pengembangan koperasi modern, industri halal, pertanian, perkebunan, perikanan, energi, serta ekonomi digital. Potensi jutaan warga nahdliyin merupakan kekuatan pasar yang sangat besar apabila dikelola melalui sistem yang profesional dan saling terintegrasi. Yang paling penting, Muktamar NU harus melahirkan budaya organisasi yang semakin mandiri, inovatif, dan berorientasi pada pemberdayaan. Kemandirian bukan berarti menjauh dari negara, melainkan menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun kesejahteraan masyarakat.
Organisasi yang kuat adalah organisasi yang mampu membiayai sebagian besar programnya melalui kekuatan ekonomi dan sumber daya yang dikelola secara profesional. NU telah membuktikan perannya dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, merawat Islam yang moderat, serta memperkuat persatuan bangsa.

Kini saatnya peran tersebut diperluas melalui transformasi ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan umat. Muktamar di Jombang akan dikenang bukan hanya karena memilih seorang ketua umum, tetapi karena mampu melahirkan visi besar tentang NU sebagai organisasi Islam yang mandiri, modern, profesional, dan menjadi kekuatan strategis bagi kemajuan Indonesia. Ketika warga NU sejahtera, maka bangsa Indonesia akan semakin kuat. Kemandirian NU bukan hanya untuk kepentingan organisasinya, tetapi merupakan investasi besar bagi masa depan umat dan Republik Indonesia.
(H.R. Dody)
