JAKARTA, Selendangsutra.id – Di tengah derasnya arus perubahan sosial, politik, dan budaya pasca reformasi, kalangan santri menyatakan komitmennya untuk turut mengambil peran dalam mengembalikan jati diri bangsa Indonesia yang dinilai mulai mengalami pergeseran nilai. Melalui penguatan norma agama, budaya, serta pendidikan akhlak, para santri siap menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan dan karakter kebangsaan.
Dewan Pembina Santri, H. Dody Ira Kusuma Jaya, menegaskan bahwa reformasi yang telah berjalan selama hampir tiga dekade memang membawa perubahan besar dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Namun di sisi lain, perubahan tersebut juga menghadirkan tantangan terhadap nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi identitas bangsa.
”Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi toleransi, kerukunan, sopan santun, dan penghormatan terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut merupakan warisan budaya dan ajaran agama yang harus terus dijaga. Jangan sampai generasi muda kehilangan arah dan melupakan jati diri bangsanya sendiri,” ujar Dody dalam keterangannya, Jum’at (18/6/2026).
Menurutnya, menjaga jati diri bangsa tidak cukup hanya melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga memerlukan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, khususnya kalangan santri yang selama ini dikenal sebagai penjaga moral dan nilai-nilai keagamaan.
Dody menekankan bahwa salah satu bentuk nyata menjaga norma kebangsaan adalah dengan menghormati para ulama, kiai, tokoh masyarakat, serta pemimpin negara yang dipilih secara demokratis melalui mekanisme konstitusional.
”Kita harus memberikan teladan kepada generasi muda bahwa perbedaan pandangan tidak boleh menghilangkan rasa hormat. Demokrasi harus dijalankan dengan etika, adab, dan akhlak yang baik. Inilah nilai yang diajarkan di lingkungan pesantren,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dody mengajak generasi muda yang ingin berkiprah dalam dunia politik untuk mengedepankan kompetisi yang sehat, bermartabat, dan sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi. Ia menilai praktik politik yang sarat dengan ujaran kebencian, fitnah, dan caci maki hanya akan memperlemah persatuan bangsa.
”Silakan berkompetisi dan mengambil peran dalam pembangunan bangsa, namun lakukan dengan cara-cara yang baik, santun, dan bermartabat. Politik harus menjadi sarana pengabdian, bukan arena perpecahan,” katanya.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat karakter generasi muda, para santri dari berbagai daerah juga tengah mempersiapkan pembentukan wadah kebangsaan yang berorientasi pada penguatan akhlak, moral, dan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin.
Gerakan tersebut diharapkan mampu menjadi ruang kolaborasi bagi santri di seluruh Nusantara dalam menjaga semangat persatuan, memperkuat nasionalisme, serta menanamkan kembali nilai-nilai luhur bangsa kepada generasi penerus.
Dody menegaskan bahwa santri memiliki tanggung jawab historis dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga saat ini, santri selalu hadir sebagai bagian penting dalam perjalanan bangsa.
”Santri bukan hanya penjaga tradisi keagamaan, tetapi juga penjaga moral bangsa. Kami ingin memastikan bahwa Indonesia tetap berdiri di atas fondasi akhlak, budaya, dan nilai-nilai kebangsaan yang kuat,” pungkasnya.
Dengan semangat kebersamaan dan penguatan karakter bangsa, para santri optimistis dapat berkontribusi dalam membangun Indonesia yang lebih beradab, harmonis, serta tetap berpegang teguh pada nilai agama dan budaya sebagai identitas nasional.
