Banyuwangi – Selendangsutra.id _ Rutin tiap tahun KH. Fatulloh Suyuti Thoha pengasuh ponpes Mansya’ul Huda, Tegaldlimo Banyuwangi, Jatim bersama Ratusan jamaah dari berbagai santri alumni pondok pesantren sarang Rembang Jawa Tengah yang berdomisili di wilayah Banyuwangi menggelar haul KH Maimun Zubair sarang yang ke-6, jamaah yang hadir dari berbagai alumni, habaib, ulama, sesepuh, wali santri, muhibbin, tokoh masyarakat,tokoh agama, tokoh pemuda dan seluruh keluarga besar Ponpes mansya’ul Huda Tegaldlimo Banyuwangi, acara dimulai pukul 20.00 wib yang bertempat di kediaman kyai Suyuti sampai halaman ponpes di penuhi jama’ah yang hadir dari santri alumni ponpes Al Anwar sarang.

Susunan acara dimulai dari pembukaan kemudian tausiah yang disampaikan langsung oleh KH Suyuti Thoha selaku pengasuh ponpes mansya’ul Huda tegaldlimo Banyuwangi, setelah itu dilanjud bacaan surah Yasin dan tahlil hingga doa penutup yang di imami oleh KH.Moh. Ibnu shodik fahim dan acara yang terakhir tambahan sambutan yang diisi oleh KH Suyuti Thoha mengenang jasa dan karomahnya mbah moen. Selasa (3/06/2025).

Pengasuh ponpes mansya’ul Huda” KH Fatulloh Suyuti Thoha dalam tausiyahnya
menyampaikan

momen memperingati Haul Ke-6 KH Maimoen Zubair yang akrab disebut Mbah Moen Zubair sarang Rembang Jateng, kenapa di panggil Mbah moen karena beliau seorang tokoh ulama yang paling sepuh dan Kiai Maimoen Zubair adalah seorang kyai yang berkaromah, apalagi ditandai pada waktu melaksanakan ibadah haji di Mekah Madinah hingga wafat di Mekkah dan dimakamkan di Ma’la. Didalam sabda Nabi mohammad SAW bahwa orang muslim yang wafat di Mekkah-Madinah dan dimakamkan di Ma’la, Allah akan membangkitkannya nanti sebagai golongan yang aman dan masuk surga (lahumul jannah)” dan karomahnya mbah Moen setelah wafat yaitu pada waktu ada proses pembongkaran makam yang dilakukan oleh petugas dari Banglades karena sesuai aturan makam yang ada di Arab Saudi di kota ma’la setiap empat tahun sekali ada pembongkaran makam untuk di ambil tulang belulangnya lalu di pindah ke tempat lain, seketika itu mata para petugas penggali kubur dari banglades di kejutkan dengan adanya jasat berbau wangi serta wajahnya Mbah Moen nampak masih utuh dan kain kafannya masih putih bersih”, kata KH. Suyuti”

Masih lanjud Pengasuh ponpes mansya’ul Huda juga mengenang perjalanan tentang semua karomahnya Mbah Moen lainya yang sudah banyak diketahui dari berbagai kalangan para kyai pengasuh ponpes, semua ajaran amalannya Mbah Moen yang diajarkan kepada para santri, antara lain yaitu yai Suyuti Thoha disaat masih menjadi santri ponpes Al Anwar sarang Rembang yang diasuh oleh Mbah Moen menekankan para santri agar selalu bersholawat kepada Baginda Rosulloh,” lanjutnya.

Kisah perjalanan Kyai Suyuti Pada tahun 1966 setelah gestafu di tahun 1965, kyai Suyuti mondok di ponpesnya Mbah Moen Jubair sampai selesai, pengalamannya ketika pertama kali mondok di sarang dan bertemu dengan beliau.
“Saya menyaksikan Kiai Maimoen Zubair adalah seorang ulama sepuh Ahlussunnah Wal Jamaah, dan di atas pundaknya beliau menyebarkan ajaran-ajaran dari gurunya yang penuh tanggung jawab,” ungkapnya di tengah ceramahnya.

Diakhir tausiahnya Kyai Suyuti mengumumkan bahwa dalam waktu dekat, jama’ah Dzikir Nurul Wathon AL-HANBALANGI WAL-KHITOH INDONESIA akan menggelar acara nasional yaitu dzikir akbar dan doa bersama, dalam rangka memperingati tanggal dan bulan kelahiran Presiden kedua RI ke-2″ H.M. Soeharto, sekaligus mendoakan mendiang IbuTien Soeharto, di Astana Giribangun, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.Rencananya acara ini akan di gelar pada hari minggu/08/06/2025 yang dihadiri seluruh jajaran pengurus majelis dzikir nurul wathon mulai dari tingkat kabupaten hingga kepengurusan tingkat propinsi yang ada di seluruh wilayah Indonesia khusunya provinsi jatimsebagai percontohan tingkat nasional,,

Semoga dengan memperingati haul KH Maimoen Zubair ini, kita semua khususnya alumni ponpes Al Anwar sarang sebagai santri yang taat menjalankan perintahnya Allah, SWT dan semoga memperoleh hidayahnya. Tutup Kyai.**
