BANYUWANGI, Selendangsutra.id — Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal Khithoh Indonesia menggelar dzikir, istighotsah dan doa akbar bersama unsur TNI-Polri, ulama, santri, tokoh masyarakat serta warga untuk memohon keselamatan, kedamaian dan keberkahan bagi bangsa dan negara.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu malam, 30 September 2026, di Masjid Pondok Pesantren Mansya’ul Huda, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Majelis dzikir dimulai sekitar pukul 20.25 WIB dan berakhir sekitar pukul 21.30 WIB. Ratusan jamaah dari sejumlah daerah, santriwan-santriwati, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda serta masyarakat sekitar mengikuti kegiatan dengan penuh kekhusyukan.

Nuansa religius dan kebangsaan terasa kuat. Lantunan dzikir dan istighotsah berpadu dengan pesan-pesan tentang pentingnya menjaga persatuan, ukhuwah, keamanan serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Hadir dalam kegiatan tersebut Mursyidul ‘Am Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal Khithoh Indonesia sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Mansya’ul Huda, KH. Fathulloh Suyuti Thoha.

Turut hadir Dandim 0825/Banyuwangi Letkol Arm Triyadi Indrawijaya, S.H., M.I.P.; Komandan Puslatpurmar 7 Lampon Letkol Marinir La Ode Arjuna beserta jajaran; Camat Tegaldlimo Trisetya Supriyanto, S.STP., M.Si.; Kapolsek Tegaldlimo AKP Sadimun, S.H.; Danramil 0825-09/Tegaldlimo Kapten Inf. Sumitro Pujatmiko, S.E.; Ketua DPC Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Banyuwangi Drs. Sudarman, S.Pd., M.Si.; jajaran pengurus Nurul Wathon; anggota Koramil dan Polsek Tegaldlimo; Babinsa Desa Kedungwungu Kopka Khoirul; serta Bhabinkamtibmas Desa Kedungwungu yang diwakili Kanit Intelkam Aiptu Kasan Hadi.
Kegiatan juga dihadiri para ustadz, gus, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, santriwan-santriwati Pondok Pesantren Mansya’ul Huda dan ratusan jamaah.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan sambutan Pengasuh Pondok Pesantren Mansya’ul Huda KH. Fathulloh Suyuti Thoha, dzikir dan istighotsah, sambutan Ketua DPC Nurul Wathon Banyuwangi, sambutan Dandim 0825/Banyuwangi, sambutan Kapolres Banyuwangi yang disampaikan AKP Sadimun, kemudian ditutup dengan doa. Kegiatan turut dimeriahkan penampilan grup hadrah santri Pondok Pesantren Mansya’ul Huda.

Dalam tausiyahnya, KH. Fathulloh Suyuti Thoha menyampaikan rasa syukur atas kehadiran seluruh jamaah, ulama, santri, masyarakat serta jajaran TNI-Polri dalam majelis doa tersebut.
Menurutnya, dzikir dan doa merupakan bagian dari ikhtiar batin dalam menjaga keselamatan bangsa. Perjuangan mendoakan bangsa dan negara tidak cukup dengan dzikir tetapi harus dilanjutkan dengan menjaga persatuan, akhlak, pengabdian dan kepedulian terhadap sesama.
“Doa bersama ini kita niatkan untuk mendoakan bangsa dan negara agar Indonesia senantiasa diberikan keselamatan, kedamaian dan keberkahan. Jangan sampai kita terpancing oleh isu-isu apa pun yang bertujuan mengadu domba sesama anak bangsa,” tutur KH. Fathulloh.

Pengasuh Pondok Pesantren Mansya’ul Huda itu juga mengingatkan pentingnya tabayun dalam menerima dan menyikapi setiap informasi yang berkembang di tengah masyarakat.
Ia mengajak umat Islam, khususnya para santri dan generasi muda, agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang dapat merusak ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan persatuan bangsa.
“Harapan kita, bangsa Indonesia senantiasa dijauhkan dari segala musibah dan para pemimpin bangsa diberikan hidayah, kekuatan serta kebijaksanaan dalam menjalankan amanah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa dzikir harus dirawat dengan persatuan, Indonesia dijaga dengan akhlak, sementara ikhtiar lahir perlu senantiasa diiringi ikhtiar batin.
“Malam hari ini kita berkumpul bukan hanya untuk berdzikir, tetapi merajut tali batin yang kuat antara ulama, umaro, TNI-Polri dan masyarakat. Senjata terbaik umat beriman untuk menjaga keutuhan bangsa dari segala ancaman dan marabahaya adalah doa dan istighotsah,” ungkapnya.

Ketua Umum Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal Khithoh IIndonesia” Prof. DR. H. Teguh Sumarno, M.M,, yang di wakili Ketua DPC Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Banyuwangi, Drs. Sudarman, S.Pd., M.Si., mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar spiritual untuk memohon perlindungan Allah SWT bagi bangsa Indonesia.
“Nurul Wathon hadir sebagai wadah dzikir yang bergerak selaras dengan napas perjuangan bangsa. Melalui istighotsah malam ini, kita mengetuk pintu langit agar Indonesia senantiasa diberikan kedamaian, keberkahan serta dijauhkan dari segala macam perpecahan,” kata Sudarman.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan kebersamaan TNI-Polri yang membaur bersama ulama, santri dan masyarakat dalam majelis tersebut.
Menurutnya, kebersamaan lintas elemen menjadi bagian penting dalam menjaga persaudaraan dan ketenteraman di tengah masyarakat.

Dandim 0825/Banyuwangi Letkol Arm Triyadi Indrawijaya, S.H., M.I.P., menyampaikan bahwa stabilitas keamanan tidak hanya berkaitan dengan kekuatan fisik, tetapi juga membutuhkan kekuatan moral dan spiritual masyarakat.
“Stabilitas keamanan suatu bangsa tidak hanya dibangun dari kekuatan fisik atau militer semata, tetapi juga dari kekuatan doa dan mental spiritual masyarakatnya. Sinergi Tiga Pilar ditambah kekuatan doa dari para kiai, ulama dan santri adalah benteng pertahanan yang kokoh bagi NKRI,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa TNI akan terus membangun kedekatan dengan masyarakat, termasuk lingkungan pesantren, sebagai bagian dari semangat kemanunggalan TNI dengan rakyat.
Pesan kebangsaan juga disampaikan agar semangat kemerdekaan terus dirawat melalui persatuan, kepedulian sosial dan terciptanya situasi wilayah yang aman serta kondusif.
Polri Dorong Sinergi Ulama, TNI-Polri dan Masyarakat

Sementara itu, AKP Sadimun, S.H., yang mewakili Kapolres Banyuwangi sekaligus Kapolsek Tegaldlimo, menyampaikan salam dan apresiasi dari jajaran kepolisian terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Kepolisian sangat mendukung kegiatan positif seperti ini karena mampu menciptakan situasi kamtibmas yang sejuk dan kondusif. Keamanan yang hakiki akan terwujud apabila kepolisian, TNI, tokoh agama dan masyarakat saling bersinergi serta menjaga tali silaturahmi,” tuturnya.

Pesan tersebut sejalan dengan semangat majelis yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat dalam satu ruang kebersamaan, yakni pesantren dan masjid. Bagi Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al_Hambalangi Wal_Khitoh Indonesia, majelis tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Dzikir dan istighotsah ditempatkan sebagai ikhtiar spiritual untuk mengetuk pintu langit, memohon pertolongan dan perlindungan Allah SWT bagi bangsa Indonesia. Dalam suasana khidmat, jamaah memanjatkan doa untuk keselamatan bangsa, para pemimpin negara, masyarakat Indonesia serta keberlangsungan NKRI.
Dalam suasana khidmat, jamaah memanjatkan doa untuk keselamatan bangsa, para pemimpin negara, masyarakat Indonesia serta keberlangsungan NKRI.

Doa juga menjadi ungkapan syukur atas nikmat kemerdekaan sekaligus penghormatan kepada para pahlawan dan syuhada yang telah mengorbankan harta, tenaga bahkan jiwa demi perjuangan bangsa.

Dzikir dan doa dipimpin langsung KH. Fathulloh Suyuti Thoha. Para jamaah larut dalam lantunan dzikir dan istighotsah, memohon agar Indonesia senantiasa diberikan keamanan, ketenteraman, keberkahan dan dijauhkan dari berbagai bentuk perpecahan.
Dari lingkungan pesantren, pesan kebangsaan itu kembali ditegaskan: merawat Indonesia tidak hanya dengan kekuatan, tetapi juga dengan akhlak, persaudaraan, pengabdian dan doa. Kegiatan berlangsung tertib, aman dan penuh kekhidmatan hingga selesai sekitar pukul 21.30 WIB.
