BANYUWANGI, Selendangsutra.id — Tradisi dan kesenian rakyat kembali mendapat ruang di tengah masyarakat Kabupaten Banyuwangi. Pagelaran Tari Tiban yang diselenggarakan Pemerintah Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, menjadi momentum untuk menghidupkan kembali warisan budaya leluhur sekaligus mempererat persaudaraan warga.

Pagelaran budaya tersebut berlangsung mulai 24 September hingga 11 Oktober 2026, bertempat di RTH Desa Tamanagung, dengan rangkaian kegiatan setiap hari pukul 10.00–16.00 WIB.
Kesenian Tiban tidak sekadar dipandang sebagai sebuah pertunjukan tradisional. Bagi masyarakat yang masih menjaga tradisi tersebut, Tiban memiliki nilai historis, sosial, spiritual, sekaligus menjadi bagian dari upaya nguri-uri atau merawat kebudayaan peninggalan nenek moyang.
Dalam pagelaran tersebut, sejumlah jawara dan pelaku seni dari berbagai wilayah turut hadir. Peserta dari Banyuwangi, termasuk dari Kecamatan Srono, serta peserta dari Blitar, Jawa Timur, ikut memeriahkan pertunjukan budaya rakyat tersebut.

Salah seorang peserta Tari Tiban asal Srono, Aris Wibowo, mengatakan bahwa keberadaan tradisi Tiban penting untuk terus diperkenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
“Tradisi Tari Tiban ini merupakan pertunjukan kesenian budaya yang perlu dilestarikan agar tidak hilang dari peradaban. Ini merupakan salah satu peninggalan nenek moyang yang perlu kita jaga bersama,” ujar Aris.
Menurutnya, dalam tradisi masyarakat Jawa, istilah tiban berkaitan dengan sesuatu yang datang atau terjadi secara tiba-tiba. Dalam konteks hujan, masyarakat mengenal istilah udan tiban, yakni hujan yang turun secara mendadak.
Karena itu, pelaksanaan Tiban yang secara tradisional kerap dikaitkan dengan musim kemarau panjang tidak semata-mata dimaknai sebagai ritual meminta hujan.
Aris menegaskan, masyarakat tetap meyakini bahwa datangnya hujan merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
“Kalau kemudian diberikan hujan tiban, tentu kita bersyukur. Tetapi yang paling utama dari kegiatan ini adalah bagaimana kita menjaga dan melestarikan budaya peninggalan leluhur agar anak cucu kita tetap mengenalnya,” tuturnya.
Bukan Sekadar Pertunjukan, Ada Pesan Budaya dan Kebersamaan
Antusiasme masyarakat terhadap pagelaran tersebut disebut cukup tinggi. Warga dari berbagai wilayah, termasuk dari luar desa dan luar daerah, datang untuk menyaksikan langsung kesenian tradisional yang masih dipertahankan di tengah masyarakat.
Aris menilai antusiasme tersebut menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat apabila diberikan ruang untuk berkembang.
Ia berharap kegiatan budaya semacam ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga mampu memperkuat hubungan sosial masyarakat Desa Tamanagung.
“Harapannya, khususnya bagi warga Desa Tamanagung, dengan adanya kegiatan seperti ini mudah-mudahan semakin guyub dan rukun, menjalin rasa persatuan dan kesatuan secara kekeluargaan, sehingga masyarakat tetap kondusif, aman, tenteram dan kompak,” ungkapnya.
Tari Tiban sendiri dikenal sebagai salah satu tradisi ritual rakyat yang telah diwariskan secara turun-temurun di sejumlah wilayah Jawa Timur. Pertunjukan biasanya berkaitan dengan harapan masyarakat terhadap turunnya hujan ketika menghadapi musim kemarau.
Dalam perkembangannya, tradisi tersebut juga memiliki dimensi kesenian. Gerakan para peserta, penggunaan properti tradisional, serta iringan gamelan Jawa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pertunjukan.
Aris menekankan bahwa Tari Tiban semestinya tidak hanya dilihat dari aspek aksi saling mencambuk antarpeserta, tetapi juga dari nilai budaya yang berada di balik tradisi tersebut.
“Yang ditonjolkan bukan kekerasannya. Di dalamnya ada nilai seni, tradisi, kebersamaan dan pesan dari leluhur untuk menjaga keseimbangan alam serta melestarikan kesenian Jawa,” jelasnya.
Menjaga Tradisi di Tengah Perubahan Zaman
Pagelaran Tiban di Desa Tamanagung menjadi gambaran bahwa pelestarian budaya tidak harus berhenti pada kegiatan seremonial. Tradisi dapat menjadi ruang perjumpaan antargenerasi, tempat masyarakat mengenalkan kembali nilai-nilai budaya kepada anak-anak dan generasi muda.
Di tengah perubahan zaman dan derasnya budaya populer, keberadaan kesenian rakyat seperti Tiban menjadi bagian dari identitas budaya lokal yang penting untuk dirawat.
Pelestarian tersebut bukan berarti mempertahankan tradisi tanpa memperhatikan perkembangan zaman, melainkan memastikan nilai sejarah, seni, kebersamaan dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
Pagelaran Tari Tiban Desa Tamanagung pun menjadi pengingat bahwa warisan leluhur bukan sekadar cerita masa lalu. Ia dapat terus hidup ketika masyarakat bersedia mengenal, merawat, dan mewariskannya kepada generasi yang akan datang.
Catatan redaksi: Informasi pada naskah awal menyebut beberapa tanggal yang tidak konsisten, yakni “11 Oktober 2023” dan “27/10/2026”. Berdasarkan poster kegiatan yang dilampirkan, periode pagelaran tercantum 24 September–11 Oktober 2026. Karena itu, naskah di atas menggunakan tanggal pada poster agar kronologi berita tetap konsisten.
