YOGYAKARTA, Selendangsutra.id — Seorang anak mungkin hanya memiliki satu ibu yang melahirkannya. Namun bagi Romo Damianus Fadjar Tedjo Soekarno Pr., hidup justru mempertemukannya dengan begitu banyak perempuan yang ia sebut sebagai ibu.

Mereka adalah para suster Kongregasi Sang Timur yang merawat, mendidik, membimbing, bahkan ikut menopang perjalanan hidupnya sejak kecil.
Pertemuan penuh haru itu terjadi di Biara Sang Timur atau PIJ (Pauperis Infantis Jesu) di Pakel, Yogyakarta, Rabu (16/9/2026).

Di tempat tersebut, Romo Fadjar kembali menemui para suster yang sebagian besar kini telah berusia di atas 75 tahun.
Usia telah membuat langkah mereka tertatih. Sebagian harus menggunakan tongkat, sementara pendengaran dan ingatan mulai berkurang. Namun ketika Romo Fadjar hadir di hadapan mereka, kenangan tentang seorang anak yang dahulu mereka rawat seolah kembali hidup.
Kunjungan tersebut terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan ulang tahun Romo Fadjar yang ke-56 pada Sabtu (26/9/2026).

Romo Fadjar merupakan pastor Keuskupan Malang yang kini berkarya di Gereja Katolik St. Paulus, Kraksaan, Probolinggo. Ia lahir di Batu, Jawa Timur, dari pasangan Lilo Soedarmo dan Anna Marsiti Jumaiyah. Ia tumbuh dalam keluarga dengan latar kepercayaan yang beragam, sementara sebagian besar saudara kandungnya beragama Islam.
Dalam kunjungan tersebut, Romo Fadjar ditemani AM Putut Prabantoro, Founder sekaligus penasihat PWKI (Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia).
Putut menyebut perjumpaan itu sebagai “pertemuan antara seorang anak dan seribu ibu.”
Bertemu Ibu yang Membentuk Masa Kecil
Semula, Romo Fadjar hanya berniat mengunjungi Sr. Johani PIJ dan Sr. Kristella PIJ. Namun, pertemuan itu berkembang menjadi sebuah perjalanan emosional ketika ia kembali berjumpa dengan para suster yang pernah hadir dalam perjalanan hidupnya.
Tujuan pertama adalah Sr. Johani PIJ (80), yang kini terbaring di tempat tidur. Meski kondisi fisiknya terbatas, wajahnya tampak bahagia menyambut kedatangan Romo Fadjar.
Keduanya berpelukan. Romo Fadjar kemudian mencium tangan Sr. Johani sebagai ungkapan bakti seorang anak kepada sosok yang pernah mendidiknya.
“Sr. Johani ini adalah salah satu ibu saya. Beliau mendidik dengan integritas yang tinggi. Pada zamannya, Sr. Johani mampu berbicara lima bahasa, yakni Jerman, Belanda, Italia, Inggris dan Prancis. Ia orang penting di Kongregasi Sang Timur,” tutur Romo Fadjar.
Pujian itu seolah menghidupkan kembali semangat Sr. Johani. Wajahnya berbinar, senyumnya mengembang, dan suasana pertemuan pun menjadi semakin hangat.
Saat berkeliling biara bersama Sr. Kristella, Romo Fadjar menjumpai satu demi satu para “ibunya”.
Ketika ada suster yang mulai lupa, ia mengingatkan dengan suara yang sedikit lebih keras menggunakan aksen khas Jawa Timur. Di antara keterbatasan usia, tampak jelas ikatan batin yang masih terjaga.
“Tanpa mereka, saya bukan siapa-siapa. Saya mendapat didikan dalam lingkungan para suster. Saya bersekolah di SD dan SMP yang dikelola Sang Timur. Sekolah saya juga dibiayai oleh para suster. Mendiang Sr. Lorentin PIJ yang memampukan saya bisa membaca,” kenangnya.
Romo Fadjar juga mengenang peran Sr. Kristella yang menurutnya telah membantu keluarganya dengan penuh ketulusan.
“Kami orang miskin. Hampir semua anggota keluarga dan para ponakan diopeni, diperhatikan dan ditolong atau dititipkan di panti asuhan milik Sang Timur di berbagai tempat berkat Sr. Kristella,” ujarnya.
Kenangan tentang Sr. Esther
Di ruang makan biara, Romo Fadjar kembali bertemu dengan sosok yang memiliki tempat tersendiri dalam ingatannya, Sr. Esther PIJ.
Ia mengenang Sr. Esther sebagai seorang suster yang dahulu memiliki wajah cantik dan menjadi perhatian banyak orang.
“Saya ingat betul, Sr. Esther adalah suster Sang Timur yang berwajah cantik. Banyak pria yang mencoba mendekatinya. Beliau itu idola para pria. Namun panggilan untuk hidup membiara dan melayani Tuhan Yesus serta Bunda Maria lebih kuat daripada godaan itu,” kenang Romo Fadjar.
Keduanya kemudian berangkulan. Wajah Sr. Esther yang telah memasuki usia senja masih menyimpan jejak kecantikan yang dikenang Romo Fadjar sejak masa lalu.
Foto Bersama yang Penuh Makna
Pertemuan tersebut tidak ingin hanya menjadi kenangan dalam ingatan.
Para suster dan Romo Fadjar sepakat mengabadikannya dalam sebuah foto bersama. Mereka memilih lokasi ikonik di depan Patung Bunda Maria.
Untuk mencapai lokasi tersebut, para suster yang rata-rata telah berusia lebih dari 75 tahun harus berjalan cukup jauh. Namun semangat mereka tidak surut.
Foto pertama hampir saja menjadi foto terakhir ketika disadari Sr. Andrea dan Sr. Monika belum bergabung.
Keduanya tertinggal di belakang.
Para suster kemudian meminta agar sesi foto diulang. Mereka dengan sabar menunggu hingga seluruh anggota berkumpul.
Ketika foto akhirnya berhasil diabadikan, para suster sepuh itu justru bersorak gembira.
Momen sederhana tersebut menjadi gambaran kuat bahwa usia boleh menua, tetapi kasih, persaudaraan dan kenangan tidak mudah hilang.
Kongregasi Sang Timur dan Perjalanan Hidup Fadjar
Kongregasi PIJ atau Pauperis Infantis Jesu yang berarti “Kanak-Kanak Yesus yang Miskin”, di Indonesia dikenal sebagai Kongregasi Sang Timur.
Nama Sang Timur memiliki makna yang berkaitan dengan “Raja Muda Yang Baru Lahir” dan diusulkan oleh Rm. Satiman SJ.
Kehadiran enam suster dari Belanda di Indonesia diawali dengan kedatangan mereka di Tanjung Perak, Surabaya, pada 29 Mei 1932 setelah perjalanan laut menggunakan kapal Christian Huygens.
Karya mereka kemudian berkembang melalui dunia pendidikan, antara lain melalui sekolah dasar Hollandsch-Chineesche School (HCS) “Clara Fey” di Pasuruan. Tiga tahun kemudian, karya tersebut diperluas ke Batu dan Malang, kota kelahiran Romo Fadjar.
Seiring perjalanan waktu, karya Sang Timur berkembang ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jakarta, Banten, Nusa Tenggara Timur hingga Kalimantan Barat.
Di Yogyakarta, perjalanan Kongregasi Sang Timur berawal dari hadirnya calon suster pribumi asal Gunung Ketur, Yogyakarta, Emma Sutarmi Prawirataroena, yang kemudian dikenal sebagai Sr. Veronika Maria PIJ.
Komunitas Suster PIJ secara resmi berdiri di Sentul, Yogyakarta, pada 15 Oktober 1965. Dua tahun kemudian, komunitas Sang Timur juga berdiri di Pakel, Yogyakarta.

Bagi Romo Fadjar, perjalanan itu bukan sekadar sejarah sebuah kongregasi. Di dalamnya terdapat kisah hidupnya sendiri.
Ia mengenang Sr. Cornelia PIJ sebagai salah satu sosok yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan pendidikannya.
“Sr. Cornelia ini yang membebaskan uang sekolah saya dan saudara-saudara selama tujuh bulan. Untuk menjaga harga diri anak didiknya, Sr. Cornelia memberikan tugas ringan kepada saya untuk membantu para suster,” ungkapnya.
Sr. Cornelia bahkan ikut mencarikan donatur untuk mendukung pendidikan Romo Fadjar di seminari menengah di Malang.
Ada pula satu kenangan sederhana yang tidak pernah dilupakannya: sebuah bolpoin merek Snowman.
Setiap kali berkunjung ke rumah, Sr. Cornelia membawakan alat tulis tersebut.
“Saat ditanya alasannya, suster Belanda itu menjawab, tekunilah panggilan hidupmu melalui alat itu. Suatu saat bolpoin ini akan berguna bagi banyak orang,” kenang Romo Fadjar.
Keteladanan Sr. Cornelia pula yang diakuinya menjadi salah satu jalan yang membawanya memilih menjadi seorang Katolik.
Bahkan ketika Romo Fadjar mengenakan jubah pertamanya, Sr. Cornelia yang ketika itu sudah tidak dapat melihat tetap memberikan berkat secara khusus.
Sesanti yang Menjadi Pegangan Hidup
Kunjungan kemudian berakhir dengan pertemuan bersama Sr. Maria PIJ, sosok yang pernah menjabat sebagai Suster Jenderal Kongregasi PIJ seluruh dunia pada 1996–2008.
Bagi Romo Fadjar, Sr. Maria memiliki pengaruh besar dalam perjalanan panggilannya menjadi imam.
Ada sebuah sesanti yang melekat kuat dalam diri Sr. Maria:
“Tibo Tangi Cekelanku Gusti, Setiyo Mituhu Temekaning Mati.”
Kalimat tersebut bermakna, “Jatuh atau bangun, peganganku adalah Tuhan; setia untuk taat hingga ajal datang.”
Sesanti itu kemudian dipilih Romo Fadjar sebagai motto ketika ditahbiskan menjadi imam pada 26 Agustus 1999.
“Saya mengucapkan terima kasih karena suster merelakan sesantinya saya pakai,” ujar Romo Fadjar saat bertemu Sr. Maria.
Keduanya kemudian mengulang sesanti tersebut bersama-sama.
Romo Fadjar lalu mencium tangan Sr. Maria. Sebuah gestur sederhana yang menjadi penutup perjalanan seorang anak menemui “seribu ibu”.
Dari Sang Timur hingga Vatikan
Romo Fadjar meyakini sesanti tersebut menjadi salah satu semangat yang terus menyertai perjalanan hidup dan imamatnya.
Salah satu momen yang paling dikenangnya terjadi di Vatikan ketika usia imamatnya memasuki 25 tahun.
Pada 21 Agustus 2024, Romo Fadjar mendapat kesempatan bertemu Paus Fransiskus. Dalam kesempatan tersebut, ia mengenakan udeng, penutup kepala tradisional Banyuwangi, ke kepala Paus Fransiskus.
Momen itu menjadi perhatian para peziarah yang hadir di Hall St. Paulus, Basilika Santo Petrus.
Kini, setelah puluhan tahun menjalani perjalanan hidup dan pelayanan, Romo Fadjar kembali kepada sosok-sosok yang menjadi bagian penting dari masa kecilnya.
Ia pun meninggalkan Biara Pakel dengan sebuah janji: suatu saat akan kembali merayakan Misa Kudus bersama para “ibunya”.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni.
Ia adalah pengingat bahwa di balik perjalanan seorang anak menuju masa depan, selalu ada tangan-tangan yang pernah membimbing, mendidik, menguatkan dan mendoakannya.
Satu anak mungkin hanya memiliki satu ibu yang melahirkannya. Namun kasih seorang ibu dapat hadir melalui begitu banyak tangan yang dengan tulus merawat dan membentuk kehidupan.
Selamat ulang tahun ke-56, Romo Fadjar.
Semoga perjalanan pengabdian dan imamat terus menjadi berkat bagi banyak orang.
