BANDA ACEH, Selendangsutra.id — Pemerintah Aceh dinilai perlu terus memperluas konektivitas udara antarwilayah sebagai bagian dari strategi membuka pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di seluruh Aceh. Dengan kondisi geografis Aceh yang luas, pegunungan, kepulauan dan jarak antarkabupaten yang cukup jauh, transportasi udara dinilai bukan lagi sekadar moda transportasi alternatif, tetapi dapat menjadi instrumen percepatan ekonomi daerah.
Program penerbangan perintis yang selama ini dilayani antara lain oleh Susi Air menunjukkan bahwa kebutuhan tersebut memang ada. Pada 2026, sejumlah rute perintis dari dan menuju Banda Aceh tetap mendapatkan dukungan pemerintah melalui skema subsidi angkutan udara perintis.
Salah satu contoh adalah rute Sinabang–Banda Aceh yang dilayani Susi Air dua kali dalam seminggu. Tarif yang ditetapkan untuk masyarakat juga mendapat subsidi pemerintah, yakni Rp594 ribu untuk Sinabang–Banda Aceh dan Rp679 ribu untuk Banda Aceh–Sinabang. Hal yang sama terlihat di Aceh Tenggara. Pada 2026, penerbangan perintis melayani Kutacane–Banda Aceh beberapa kali dalam sepekan serta terdapat tambahan rute Kutacane–Medan. Pesawat yang digunakan merupakan Cessna Caravan berkapasitas sekitar 12 penumpang.
Banda Aceh sebagai Hub Penerbangan Daerah
Pemerintah Aceh sebenarnya sudah memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan penerbangan perintis. Pada 2024, delapan rute penerbangan perintis direncanakan di Aceh, termasuk:
Banda Aceh–Sinabang
Banda Aceh–Gayo Lues
Banda Aceh–Kutacane
Banda Aceh–Tapaktuan
Banda Aceh–Sabang
Gayo Lues–Takengon
Medan–Singkil
Medan–Gayo Lues
Bahkan dalam dokumen perencanaan Pemerintah Aceh, terdapat usulan subsidi penerbangan perintis pendukung pariwisata untuk delapan rute yang mencakup Simeulue, Aceh Tenggara, Aceh Singkil, Aceh Barat Daya, Gayo Lues, Bener Meriah dan Sabang. Artinya, jaringan penerbangan Aceh sebenarnya sudah memiliki fondasi.
Tantangannya sekarang adalah bagaimana jaringan tersebut tidak hanya dipertahankan sebagai penerbangan perintis, tetapi secara bertahap berkembang menjadi jaringan penerbangan komersial yang mandiri ketika jumlah penumpang dan aktivitas ekonomi sudah mencukupi.
Subsidi Jangan Sekadar Membayar Tiket
Pemerintah daerah juga perlu melihat subsidi penerbangan sebagai investasi konektivitas. Jika satu penerbangan mampu mempercepat perjalanan masyarakat dari wilayah terpencil ke Banda Aceh, dampaknya tidak berhenti pada penumpang. Pelaku UMKM dapat bergerak lebih cepat, hasil pertanian bernilai tinggi dapat memperoleh akses pasar, wisatawan lebih mudah datang, tenaga medis dan aparatur pemerintah lebih mudah melakukan mobilitas, serta hubungan antarkabupaten menjadi lebih efisien.
Pemerintah dapat melakukan evaluasi terhadap setiap rute berdasarkan beberapa indikator:
jumlah penumpang;
tingkat keterisian;
potensi pariwisata;
aktivitas ekonomi;
kebutuhan pelayanan publik; dan
peluang untuk naik kelas dari rute subsidi menjadi rute komersial.
Susi Air dan Peluang Pengembangan Rute Baru
Pengalaman Susi Air di Aceh menunjukkan bahwa maskapai perintis dapat menjadi bagian penting dalam membuka wilayah yang belum memiliki konektivitas udara yang kuat. Dinas Perhubungan Aceh sebelumnya juga telah berdiskusi dengan Susi Pudjiastuti mengenai pengembangan penerbangan perintis. Dalam pertemuan tersebut, Susi menyarankan agar rute potensial memiliki frekuensi minimal sekitar tiga kali seminggu agar lebih mudah dimanfaatkan masyarakat.
Pola tersebut dapat menjadi bahan evaluasi Pemerintah Aceh untuk menentukan rute-rute prioritas.
Misalnya, konektivitas:
Banda Aceh–Kutacane
Banda Aceh–Gayo Lues
Banda Aceh–Sinabang
Banda Aceh–Tapaktuan
Banda Aceh–Singkil
Banda Aceh–Takengon
Banda Aceh–Sabang
serta konektivitas antarkabupaten dapat dikaji berdasarkan potensi ekonominya masing-masing.
Dari Penerbangan Perintis Menjadi Penerbangan Komersial
Menurut pemerhati ekonomi dan konektivitas Aceh, Dody, kebijakan penerbangan perintis harus mempunyai target jangka panjang. “Jangan sampai subsidi hanya dipandang sebagai biaya pemerintah. Kita harus melihatnya sebagai investasi untuk membuka wilayah. Kalau sebuah rute sudah mempunyai penumpang yang cukup dan kegiatan ekonominya tumbuh, pemerintah bisa secara bertahap mendorong rute tersebut menjadi penerbangan komersial,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan sebuah rute tidak hanya diukur dari keuntungan maskapai, tetapi juga dari dampaknya terhadap perekonomian daerah. Karena itu, Pemerintah Aceh dapat membuat peta jalan konektivitas udara Aceh 5–10 tahun, dengan membagi rute menjadi tiga kategori: rute perintis yang masih membutuhkan subsidi, rute transisi yang mulai memiliki pasar, dan rute komersial yang sudah mampu berdiri sendiri.
Aceh Tidak Boleh Hanya Menjadi Penumpang
Pengembangan penerbangan juga harus dikaitkan dengan agenda ekonomi yang lebih besar. Banda Aceh dapat diperkuat sebagai pusat konektivitas, sementara bandara-bandara daerah menjadi feeder yang menghubungkan kawasan pariwisata, pertanian, perdagangan dan investasi.
Apalagi Aceh saat ini juga mulai mengembangkan kembali konektivitas langsung menuju Jeddah untuk jamaah umrah. Dengan demikian, jaringan penerbangan domestik dan internasional dapat saling menopang. Penerbangan perintis dari kabupaten ke Banda Aceh dapat menjadi feeder bagi penerbangan nasional dan internasional. Konsep tersebut membuat penerbangan antarwilayah tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari sebuah ekosistem.
Membuka Langit, Membuka Ekonomi
Aceh memiliki banyak daerah dengan potensi ekonomi yang besar tetapi terkendala jarak. Gayo memiliki kopi dan pariwisata. Simeulue memiliki perikanan dan wisata bahari. Aceh Tenggara memiliki pertanian, perkebunan dan ekowisata. Gayo Lues memiliki potensi pariwisata dan pertanian. Singkil dan Pulau Banyak memiliki potensi wisata bahari. Sabang memiliki posisi strategis sebagai destinasi wisata dan pintu konektivitas internasional.
Jika konektivitas udara diperkuat, maka daerah-daerah tersebut memiliki kesempatan lebih besar untuk terhubung dengan pasar. Karena itu, membuka rute penerbangan bukan hanya membuka jalur penumpang, tetapi membuka jalur investasi, pariwisata, perdagangan dan pertumbuhan ekonomi.
Aceh kini membutuhkan strategi penerbangan yang lebih terintegrasi: penerbangan perintis untuk membuka wilayah, penerbangan komersial untuk mengembangkan pasar, dan Banda Aceh sebagai salah satu simpul konektivitas utama menuju Indonesia dan dunia.
(HR DODY)
