Banyuwangi, Selendangsutra.id – Senin (07/09/2026)
Pagi itu pesantren Mansyaul Huda, Tegaldlimo, Banyuwangi lengang. Meski beberapa orang sedang membongkar panggung dan tarub yang dipakai sehari sebelumnya, pesantren ini sepi. Di tempat ini, setelah sholat Jumat (28/08/2026), para tokoh masyarakat, forkompinda, para habaib, tokoh lintas agama dan masyarakat Banyuwangi datang ke pesantren ini. Mereka diundang Mbah Yai untuk menggelar hajatan Maulid Nabi dan Istiqosah untuk bangsa dan negara.

Mbah Yai, yang nama lengkapnya KH Fathullah Suyuti Toha pagi itu menunggu seorang tamunya. AM Putut Prabantoro akan datang untuk berpamitan kembali ke Jakarta. Ia seorang Katolik dan bersama para tokoh masyarakat lainnnya hadir dalam hajatan Maulid Nabi dan Istighotsah atas undangan khusus Mbah Yai. Para tokoh itu berasal dari masyarakat Hindu, Budha, aliran kepercayaan, masyrakat adat dll.

Putut dan Mbah Yai baru bertemu empat kali. Meskipun demikian, hubungan keduanya secara batin sangat dekat. Dan, secara khusus dalam hajatan yang diselenggarakan Jamaah Dzikir Nurul Wathon tersebut, Putut Prabantoro secara khusus diperkenalkan kepada khalayak ramai.

“Sejak pertama berkenalan, saya tidak melihat Mbah Yai beragama apa ataupun embel-embelnya. Saya hanya melihat Mbah Yai sebagai orang tua yang harus dihormati karena suri tauladannya dan semangat nasionalismenya. Saya baru tahu tentang Jamaah Dzikir Nurul Wathon saat berbincang-bincang di Yogya tersebut,“ Putut berkisah.

Oleh karena itu, sebagai orang yang lebih muda, Putut mengaku harus tahu diri dan memegang adat. Oleh karenanya dua pekan setelah pertemuan pertama, ia bersikeras untuk melakukan perjalanan silaturahmi balasan ke Banyuwangi. Dalam kunjungan itu, ia didampingi sahabat lama Mbah Yai yakni Rm Fadjar Tedjo Soekarno, lalu kakak kandungnya Lambertus Widiantoro dan seorang wartawan Lucius Gora Kunjana.

Dalam setiap pertemuannya dari pertama sampai keempat, menurut Putut, Mbah Yai selalu menunjukkan contoh nyata kerendahan hati seorang tokoh bangsa. Sekalipun sebagai ulama besar, kyai karismatik atau sering disebut kyai khos, Mbah Yai mau merunduk dan tetap sederhana dalam sikap dan tutur katanya.

TELEPON BERULANGKALI
Ketika Putut sampai di pesantren, Mbah Yai sudah menunggu di depan pintu kediamannya dan memersilakan masuk tamunya. Lalu keduanya masuk di ruang tamu. Mbah Yai yang masih berdiri tanpa segan-segan memeluk Putut yang masih setengah berdiri dan siap-siap untuk duduk bersila. Tanpa ragu, Putut mencium tangan Mbah Yai saat ulama besar itu memeluknya.

Adegan haru itu disaksikan oleh Lucius Gora Kunjana, Hariyoni Setiadi Kordinator Banyuwangi dari Koperasi Jatim Unggul Bersama dan Suyanto wartawan SelendangSutera.id dari Banyuwangi. Mbah Yai dan Putut Prabantoro, founder dan penasihat Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) saling tersenyum dan berpegangan tangan layaknya ayah dan anak yang sudah lama tak bertemu.
“Sejak pertemuan di Jakarta, Mbah Yai berulangkali menelpon Pak Putut untuk tidak lupa hadir dalam perayaan Maulid Nabi dan Istighotsah di Banyuwangi. Beliau selalu menelpon pada malam hari, dan ingin Pak Putut hadir dalam acara tersebut. Bahkan Pak Putut pidato di depan khalyak ramai saat acara, “ ujar Suyanto, wartawan Selendangsutera.id yang juga sebagai asisten Mbah Yai.
Menurut Yanto demikian panggilan Suyanto, dirinya merasa tidak heran jika hubungan keduanya terasa begitu dekat. Kesannya, hubungan keduanya seperti ayah dan anak sekalipun belum lama berkenalan.

Ketika Mbah Yai mengambil rokok, Putut dengan sigap mengambil korek Zippo bergambar Pak Prabowo menaiki kuda dan membantu menyalakan rokok pengasuh ponpes Mansyaul Huda itu. Korek itu sehari sebelumnya oleh Putut dipersembahkan kepada Mbah Yai. Ia sadar bahwa hadiah itu berharga bagi Mbah Yai, yang tidak putus-putusnya berdoa untuk Presiden Prabowo dan jajarannya agar dapat membawa Indonesia ke kesejahteraan dan keadilan.
“Saya tidak pernah meminta. Tetapi kalau diberi saya akan menerima. Oleh karena itu, Nurul Wathon tidak pernah berharap bantuan dari pemerintah. Karena itu semangatnya,“ ujar Yanto yang mengutip ucapan Mbah Yai.
PERSATUAN
Bersama para jamaahnya, Nurul Wathon, Mbah Yai selalu mengadakan dzikir bersama dengan ujud persatuan negara dan bangsa. Karena misi persatuan inilah, ketika berdiskusi, Putut dan Mbah Yai nyambung.
Ada tiga pesan utama Mbah Yai. Yang pertama terkait dengan ajaran utama yakni Ukhuwah Wathaniyah dan Ukhuwah Basyariah, yang kedua soal kerakyatan dan yang ketiga, soal etika politik.
“Ukhuwah Wathaniyah yakni persaudaraan atau ikatan kasih sayang antar sesama warga negara yang hidup di dalam satu wilayah dan negara yang sama, tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras, maupun golongan. Sedangkan Ukhuwah Basyariyah yakni persaudaraan universal antarsesama umat manusia. Persaudaraan ini bersifat inklusif dan tidak mengenal diskriminasi,“ ujar Mbah Yai.
Terkait dengan nilai kerakyatan, Nurul Wathon konsisten dan proaktif memberikan penyadaran tentang hak-hak dan kewajiban rakyat, melindungi dan membela mereka dari perlakuan sewenang-wenang dari pihak mana pun.
Dalam pesan ketiganya, Mbah Yai menegaskan bahwa Nurul Wathon akan terus menanamkan etika politik kepada generasi muda, masyarakat dan bangsa pada umumnya. Dengan cara ini, diharapkan, tercipta kehidupan politik yang santun dan bermoral, dan tidak menghalalkan berbagai macam cara.
Menanggapi ketiga nilai itu, Putut Prabantoro menjelaskan, sejak tahun 2007, dirinya mulai menggalakan nilai persatuan ini. Ia melihat bahwa persatuan menjadi barang yang langka dan mahal sejak diberlakukannya undang-undang tentang otonomi daerah pada 2004.
“Saya melihat adanya ancaman serius soal persatuan bangsa di tahun-tahun mendatang setelah 2004. Ancaman itu berlatang belakang SARA, pertentangan mayoritas – minoritas, putera daerah – pendatang yang memicu konflik horisontal dll. Media memegang peranan penting untuk terlibat mewujudkan persatuan. Persatuan hancur kesejahteraan tidak mungkin tercapai,” tegas Putut Prabantoro.
Dan selama lima tahun saat menjadi Taprof (Pengajar) Bidang Ideologi di Lemhannas, Putut menggunakan kesempatan itu untuk mengingatkan para peserta didik Lemhannas tentang nilai mahal sebuah persatuan. Saat berkeliling Indonesia, ia terus mengingatkan bangsa Indonesia tentang ancaman terhadap Persatuan Indonesia. Kehancuran Persatuan Indonesia akan menghancurkan Pancasila dan negara Indonesia serta kesejahteraan yang dicita-citakan.
Bagi Putut, perdamaian harus dimulai dengan terwujudnya kesejahteraan dulu yang berpijak pada persatuan. Oleh karena itu, menurut Putut Prabantoro, Indonesia harus menggunakan ungkapan Si Vis Pacem, Para Panem – Jika ingin perdamaian, siapkanlah Roti (Kesejahteraan). Untuk mewujudkan kesejahteraan orang harus bersatu, meniadakan perbedaan latar belakang dan bersama-sama mewujudkan kesejahteraan. Dari situ perdamaian nyata akan terwujud.
“Sekalipun sudah sepuh, saya melihat mbah Yai tidak mau berhenti berdzikir untuk bangsa dan negara serta kemakmuran rakyat. Beliau tidak melihat latar belakang seseorang, ia ingin semua berdoa untuk bangsa dan negaranya. Beliau menegaskan, berjuang untuk negara itu tidak hanya soal fisik tetapi juga soal rohani. Dan dzikir adalah salah satu bentuk dari bela negara,” ujar Putut.
Sebagai orang Katolik, Putut memahami motto yang ditinggalkan Uskup pertama Indonesia yakni, Mgr. A. Soegijapranata SJ yakni 100% Katolik – 100%. Tanpa terkecuali umat Katolik harus terpanggil untuk memelihara persatuan dan mempertahankan Pancasila. Oleh karena itu, bersama-sama organisasi lain, Putut mempromosikan persatuan dan perdamaian dalam kunjungan ke Vatikan dan Russia.
Pada November 2011, sebagai Ketua Delegasi Rombongan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) beraudiensi dengan Kardinal Jean Louis Tauran di Vatikan dan 2012 sebagai Ketua Delegasi Rombongan PB HMI, PP PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dan Lisuma ke Russia. Dan terakhir pada 2024, Putut mendampingi delegasi para ketum organisasi kepemudaan lintas agama yakni GP Ansor, Pemuda Muhammadiyah, Pemuda Katolik, Pemuda Hindu PERADAH dan Pemuda Kristen GAMKI beraudiensi dengan Paus Fransiskus di Vatikan.
“KH Suyuti Toha merupakan energi kuat bagi saya untuk terus menggelorakan semangat persatuan dan perdamaian bangsa. Energi yang sangat besar. Nurul Wathon tidak berpolitik tetapi fokus pada terwujudnya persatuan bangsa dan serta kemakmuran negara. Karena visi ini saya mendukung Nurul Wathon,” urai Putut.
Putut, yang juga anggota Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (Komisi KOMHAK KWI), berharap banyak santri ataupun ulama muda apapun agamanya yang mengikuti jejak Mbah Yai yang terus mengusung persatuan, perdamaian dan kerukunan bangsa.
Kunjungan ke Ponpes Mansyaul Huda pada Sabtu (29/08/2026) berlangsung 30 menit. Pelukan hangat Mbah Yai kepada Putut saat berpamitan menguatkan mereka yang hadir untuk melaksanakan pesan Mbah Yai melalui profesi masing-masing. Dan, ponpes kembali lengang!
CAPTION PHOTO
- FOTO BERSAMA (ki-ka) : Hariyoni Setiadi Kordinator Banyuwangi dari Koperasi Jatim Unggul Bersama, Pendiri Majelis Dzikir Nurul Wathon KH Fathullah Suyuti Toha, Pegiat kebangsaan AM Putut Prabantoro dan Wartawan Lucius Gora Kunjana, di Ponpes Mansyaul Huda, Tegaldlimo, Banyuwangi, Sabtu (29/08/2026);
- BERPAMITAN – Pendiri Majelis Dzikir Nurul Wathon dan sekaligus pengasuh Ponpes Mansyaul Huda, Tegaldlimo, Banyuwangi, KH Fathullah Suyuti Toha menerima pegiat kebangsaan AM Putut Prabantoro, sesaat sebelum berpamitan kembali ke Jakarta, Sabtu (29/08/2026).
- DIPELUK – Pendiri Majelis Dzikir Nurul Wathon dan sekaligus pengasuh Ponpes Mansyaul Huda, Tegaldlimo, Banyuwangi, KH Fathullah Suyuti Toha memeluk pegiat kebangsaan AM Putut Prabantoro, sesaat sebelum berpamitan kembali ke Jakarta, Sabtu (29/08/2026).
- KOREKA API – Pegiat Kebangsaan AM Putut Prabantoro menunjukkan korek api yang dipersembahkan untuk KH Fathullah Suyuti Toha, Pendiri Majelis Dzikir Nurul Wathon dan sekaligus pengasuh Ponpes Mansyaul Huda, Tegaldlimo, Banyuwangi, Sabtu (29/08/2026).
