Banyuwangi – Selendangsutra.id_ Pesarean Ki Ageng Raden Mas Djojo Poernomo di Dusun Tojo Kidul, Desa Temuguruh, Kecamatan Sempu, Banyuwangi. Ki Ageng Raden Mas Djojo Poernomo merupakan guru spiritual Pangeran Diponegoro dan masih ada ikatan keluarga Kesultanan di Yogyakarta.
Di dalam area makam yang sangat luas berbentuk persegi, terdapat kolam yang konon dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai kolam bertuah dan juga terdapat sejumlah tempat untuk pertemuan, misalnya aula. Aula itu berada di Timur makam Kiai Ageng RM. Djojopernomo, Selain itu, di areal makam juga terdapat mushola, Dan, terdapat sebuah bangunan candi sebagai bangunan makam dari R M. Djojo Poernomo yang bernama Tjandi Sonja Ruri.

Dengan rasa penasaran, kami memutuskan untuk berkeliling menelusuri dari berbagai sudut yang ada di area makam tersebut, Setelah kami puas menyusuri berbagai sudut area makam, dengan sejenak kami pun tertarik dengan apa yang ada di dalam makam tersebut, jadi kami pun menyempatkan diri untuk masuk berziarah ke dalam bangunan candi. Di dalam bangunan Tjandi Sonja Ruri terdapat dua buah makam yang berada lebih tinggi daripada lantainya, dan harus melewati beberapa anak tangga untuk mencapai makam tersebut. Dua makam itu bertuliskan nama R M. Djojo Poernomo dan R A. Soeprapti Djojo Poernomo.

Sedangkan di belakang makam, terdapat satu lukisan cukup besar yang merupakan lukisan foto dari RM. Djojo Poernomo,

serta aroma dupa yang menyeruap di seluruh ruangan, menambah aura mistis yang begitu kuat selama kami berada di dalam bangunan candi untuk melakukan meditasi atau kirim doa leluhur.
Di lingkungan makam Kami pun berhasil mendapatkan cerita dari seorang juru kunci yang masih muda tapi pengetahuan spiritualnya juga sudah mendalami, juru kunci menceritakan sejarah makam KI Ageng Raden Mas Djojo Poernomo sampai silsilah hingga perjalanannya R.M. Djojo Poernomo bahwa beliau merupakan tokoh pahlawan yang masih memiliki hubungan darah dengan Kerajaan Mataram Islam. Ucap juru kunci pada awak media, Selasa: 13/05/2025.
R.M. Djojo Poernomo lahir di lingkungan Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-18. Ia merupakan anak dari R. A. Kustinah—putri dari Nyi Ageng Serang—dengan P. Mangkudiningrat, yang merupakan anak dari Hamengkubuwono II.
Djojo Poernomo sebenarnya merupakan nama samaranya ketika ia meninggalkan kerajaan setelah terjadinya Perjanjian Giyanti. Nama asli dari Djojo Poernomo sendiri sebenarnya adalah R.M Papak atau Aryo Papak bergelar Pangeran Notoprojo yang merupakan gelar yang sama seperti bapak dari Nyi Ageng Serang, yakni Pangeran Notoprojo atau Panembahan Serang.
Sejak masih muda, Pangeran Notoprojo sudah berjuang bersama dengan Pangeran Diponegoro dan neneknya, Nyi Ageng Serang. Karena kegigihan dan kepiawaiannya dalam berperang serta kemantapan spiritualnya, beliau oleh Pangeran Diponegoro dijadikan guru spiritual guna membangun semangat barisan pasukan Pangeran Diponegoro.
Pasca perang Jawa tahun 1830 dan kondisi Kerajaan Mataram Islam yang sudah terpecah akibat adanya Perjanjian Giyanti—yang terjadi pada tahun 1755—membuat Pangeran Notoprojo memilih untuk tetap melanjutkan perlawanan terhadap kolonial Belanda, dengan cara berpindah-pindah tempat guna menyusun barisan perlawanan di setiap tempat yang ia kunjungi.
Di setiap tempat pelarian itulah ia kemudian berganti-ganti nama, seperti ketika di Surabaya, misalnya, ia dikenal dengan nama Kiai Korek; di Trenggalek ia dikenal dengan Pangeran Presil Kopodilem; dan nama-nama lain seperti Markam Kasan Munadja, Raden Gimbal, Raden Joko, dan lain sebagainya.
Sebelum sampai di Bumi Blambangan, beberapa kali Pangeran Notoprojo juga menetap di Blitar dan Malang guna menghindari kejaran pihak Belanda. Dan setibanya di Banyuwangi, Pangeran Notoprojo kemudian kembali berganti nama menjadi R. M. Djojo Poernomo.
Sesampainya di Dusun Tojo Kidul, Djojo Poernomo membangun pasukan kembali dengan istilah barisan pendem. Suatu barisan perlawanan yang ia persiapkan untuk melawan pihak Belanda yang mengejarnya. Namun, setelah membangun barisan pendem tersebut, Djojo Poernomo melakukan penyepian diri dengan cara bertapa selama beberapa tahun di sebelah selatan desa
karena keprihatinannya terhadap keadaan bangsa saat itu, alasan Djojo Poernomo meninggalkan kerajaan karena merasa kecewa dengan adanya Perjanjian Giyanti. Maka, ia memutuskan untuk menjadi Pujangga Kejawen sebagai jalan alternatifnya melawan pihak kolonial Belanda.
Beliau lalu memutuskan untuk hijrah menuju arah Timur, tepatnya di daerah Tojo Kidul, desa Temuguruh, kecamatan Sempu, Banyuwangi. Di tempat inilah Kiai Ageng RM. Djojopoernomo mengembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 09 Februari 1956 dan dimakamkan di desa tersebut. Setiap bulan Muharram (Asyura/Suro) makam tersebut selalu ramai dengan para penziarah baik dari pengikut Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU) yang banyak berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan lain sebagainya.
Dalam areal Makam Kiai Ageng RM. Djojopoernomo di Tojo Kidul, Temuguruh, Sempu Banyuwangi tersebut banyak terdapat tulisan falsafah-falsafah Jawa yang sangat dalam sekali maknanya. Salah satunya adalah terdapat pada pintu gerbang sebelum masuk di areal pemakaman terdapat tulisan berikut: “Kena Lumebu Jen Wes Weruh Djerone”[Boleh Masuk Kalau Sudah Mengetahui Dalamnya]. Selain tulisan tersebut, ada lagi ungkapan falsafah Jawa yang penuh makna lain juga ditemukan di kawasan seluas kurang-lebih setengah hektare tersebut. Terdapat di dinding bagian atas gedung pemakaman, terdapat tulisan berikut: “Sri Naga Radja, Paring Wangsit Bedja Kang Bisa Nampa”.
Selain ungkapan di atas, ada pula ungkapan falsafah Jawa yang berbunyi:“Kena Munggah Jen Wis Weruh Duwure, Teka Ora Mara, Musna Ora Lunga, dan Imbuh Ora Wawuh, Suda Ora Kalung” [Boleh naik ke atas kalau sudah mengetahui atasnya, datang tidak hadir, hilang tidak pergi, dan tambah tidak bertambah, berkurang tidak berkurang]. Begitulah beberapa kalimat yang terpampang di kawasan pemakaman Kiai Ageng RM. Djojopoernomo di Tojo Kidul, Temuguruh, Sempu, Banyuwangi.
R M Djojo Poernomo tidak memiliki keturunan dan wafat pada tahun 1956 yang dikebumikan di dalam area candi Sunja Ruri.
Makam Kiai Ageng RM. Djojopoernomo berdampingan dengan Raden AJ. Soeprapti yang tercatat wafat pada tahun 17 Maret 1965., konon telah diceritakan bahwa Raden AJ. Soeprapti merupakan abdi dalem Kiai Ageng RM. Djojopernomo yang sangat setia dan berbakti, setahun sekali setiap bulan Suro, diadakan haul Djojo Poernomo dan acara silaturahmi,
