JOMBANG, Selendangsutra.id – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pesantren Bahrul Ulum Tambak beras, Jombang, Jawa Timur, dinilai Ikatan Santri Nusantara harus menjadi momentum penting bagi NU untuk memperkuat perannya dalam kehidupan kebangsaan. Muktamar NU ke-35 dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026. Forum permusyawaratan tertinggi NU ini tidak hanya membahas program organisasi, tetapi juga merumuskan program kerja lima tahun dan rekomendasi kebangsaan serta memilih Rais Aam dan Ketua Umum PBNU untuk periode berikutnya.
Ikatan Santri Nusantara menilai Muktamar kali ini tidak boleh berhenti pada persoalan siapa yang menjadi Rais Aam dan siapa yang menjadi Ketua Umum. Lebih jauh dari itu, NU harus berbicara tentang masa depan Indonesia.
“Kalau Muktamar hanya selesai dengan memilih Rais Aam dan Ketua Umum, lalu kembali pada rutinitas organisasi, kita kehilangan momentum besar. NU harus berbicara lebih jauh: bangsa Indonesia mau dibawa ke mana dalam 5, 10, bahkan 50 tahun ke depan?” ujar Ikatan Santri Nusantara.
NU Punya Kekuatan Moral dan Sosial yang Besar
Ikatan Santri Nusantara berpandangan bahwa warga NU memiliki kekuatan sosial vang sangat besar di tengah masyarakat Indonesia. Karena itu, NU memiliki tanggung jawab moral untuk ikut memberikan arah dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Menurutnya, persoalan Indonesia saat ini tidak sederhana. Mulai dari korupsi, penegakan hukum, rasa keadilan masyarakat, pendidikan, ekonomi, kemiskinan, moralitas hingga ketimpangan pembangunan membutuhkan solusi yang tidak bersifat pendek.
“Bangsa ini jangan sampai kehilangan arah. Kita terlalu sering berganti pemimpin, tetapi setiap pergantian pemimpin seolah-olah harus dimulai lagi dengan program baru. Akhirnya energi bangsa habis untuk perebutan kekuasaan dan saling menjatuhkan,” katanya. Karena itu, Ikatan Santri Nusantara mendorong Muktamar NU menghasilkan peta jalan kebangsaan jangka panjang.
Indonesia Butuh Rencana 50 Tahun
Menurut Ikatan Santri Nusantara, Indonesia membutuhkan semacam blueprint pembangunan 50 tahun yang disepakati sebagai arah bersama bangsa. Siapa pun yang menjadi presiden, gubernur, bupati maupun wali kota harus tetap memiliki acuan pembangunan nasional yang berkesinambungan.
“Presiden boleh berganti. Menteri boleh berganti. Partai politik boleh berganti. Tetapi arah besar bangsa jangan ikut berganti setiap lima tahun,” tegasnya. Blueprint tersebut, menurut Ikatan Santri Nusantara, harus mencakup pendidikan, ekonomi, industri, pangan, energi, pertahanan, teknologi, kesehatan, pembangunan manusia, penegakan hukum serta penguatan moral dan kebudayaan bangsa.
Jangan Biarkan Politik Hanya Menjadi Perebutan Kekuasaan
Ikatan Santri Nusantara juga mengingatkan bahwa politik seharusnya meniadi instrumen untuk memperbaiki kehidupan rakyat, bukan sekadar arena perebutan kekuasaan. NU, menurutnya, memiliki sejarah panjang dalam perjalanan bangsa dan mempunyai basis sosial yang luas. Karena itu, kekuatan tersebut harus diarahkan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.
“Kalau warga NU bersatu dalam gagasan dan fokus pada kepentingan bangsa, kekuatannya sangat besar. Tetapi kekuatan itu jangan digunakan hanya untuk kepentingan politik praktis. Gunakan untuk pendidikan, ekonomi rakyat, keadilan sosial dan masa depan Indonesia,” ujarnya.
Muktamar Harus Melahirkan Gagasan Besar
Ikatan Santri Nusantara berharap Muktamar ke-35 NU di Jombang menjadi ruang lahirnya gagasan besar tentang masa depan Indonesia. Bukan hanya memilih pemimpin organisasi untuk lima tahun, tetapi juga menghasilkan rekomendasi kebangsaan yang bisa menjadi kontribusi NU bagi Indonesia dalam beberapa dekade mendatang.
Ikatan Santri Nusantara juga mengajak seluruh peserta Muktamar mengedepankan ilmu, akhlah persatuan dan kepentingan bangsa. Hal ini sejalan dengan harapan yang disampaikan kalangan NU Jombang agar proses Muktamar berjalan guyub, rukun dan menghasilkan pemimpin serta program kerja terbaik.
Pesan Ikatan Santri Nusantara dari Jombang
“Muktamar NU ke-35 harus menjadi momentum untuk menjawab satu perrtanyaan besar: Indonesia mau menjadi apa 50 tahun ke depan?”
“Jangan hanya rebutan posisi. Jangan hanya saling menjatuhkan. Mari duduk bersama, menyusun arah bangsa, kemudian siapa pun pemimpinnya wajib menaljutnya cita-cita besar tersebut.”
Ikatan Santri Nusantara menyakini bahwa Indonesia memiliki modal besar: Pancasila, UUD 1945, kebinekaan, kekayaan alam, generasi muda, ulama, santri dan kekuatan masyarakat sipil. Tinggal bagaimana seluruh kekuatan tersebut disatukan dalam satu arah pembangunan yang konsisten. Dari Jombang, Ikatan Santri Nusanatara menyerukan: Muktamar bukan sekedar memilih pemimpin NU. Muktamar harus ikut menentukan arah masa depan Indonesia.
NU kuat, bangsa. NU bersatu, Indonesia punya arah.
