JAKARTA, Selendangsutra.id — Silaturahmi antara ulama senior Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj dan Arif Prasetyo, Wasekjen DPP Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal Khithoh Indonesia, berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban.
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat ukhuwah, membangun komunikasi antarelemen umat, sekaligus memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Dalam pertemuan itu, Arif Prasetyo menyerahkan buku bertajuk “Bela Negara” kepada KH. Said Aqil Siroj. Pemberian buku tersebut menjadi simbol sekaligus pesan penting tentang perlunya menumbuhkan kesadaran bela negara sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan kebangsaan setiap warga negara.
Sosok KH. Said Aqil Siroj dikenal luas sebagai ulama, akademisi, dan tokoh Nahdlatul Ulama yang memiliki perhatian kuat terhadap persoalan keumatan, kebangsaan, toleransi serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia pernah dipercaya memimpin PBNU selama dua periode pada 2010–2021.
Sementara itu, Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal Khithoh Indonesia selama ini membawa semangat dzikir, ukhuwah dan kecintaan terhadap Tanah Air sebagai bagian dari gerakan sosial-keagamaan.
Silaturahmi tersebut mencerminkan pentingnya sinergi antara ulama dan elemen masyarakat dalam merawat kehidupan berbangsa yang damai, religius dan berorientasi pada persatuan.
Arif Prasetyo menilai, silaturahmi dengan ulama merupakan bagian penting dalam membangun keteladanan serta memperkuat wawasan kebangsaan di tengah dinamika kehidupan masyarakat.
“Silaturahmi dengan para ulama adalah ikhtiar untuk terus mendapatkan nasihat, keteladanan dan penguatan nilai-nilai kebangsaan. Semangat beragama dan semangat mencintai Tanah Air harus berjalan beriringan,” ujar Arif.
Menurutnya, bela negara tidak semata-mata dimaknai dalam konteks pertahanan fisik, tetapi juga dapat diwujudkan melalui menjaga persatuan, menghormati perbedaan, memperkuat kepedulian sosial, menaati aturan serta berkontribusi positif bagi bangsa dan negara.
Pemikiran mengenai pentingnya pesantren, kaderisasi, kebangsaan dan kemaslahatan masyarakat juga menjadi bagian dari kiprah KH. Said Aqil Siroj.
Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan pentingnya nilai-nilai pesantren, kebijaksanaan, kemandirian dan penguatan jaringan kebangsaan.
Pertemuan tersebut diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat jembatan silaturahmi antara ulama, tokoh masyarakat dan organisasi keagamaan dalam menjaga harmoni sosial serta memperkokoh semangat persatuan Indonesia.
Di tengah tantangan kebangsaan yang semakin kompleks, kolaborasi antara kekuatan keagamaan dan gerakan kebangsaan dinilai memiliki peran strategis untuk menghadirkan pesan-pesan perdamaian, persatuan dan kecintaan terhadap NKRI kepada masyarakat luas.

Silaturahmi, dzikir, ukhuwah dan bela negara pada akhirnya berpijak pada satu tujuan: menjaga Indonesia tetap rukun, kuat dan bermartabat.
