BANYUWANGI, Selendangsutra.id — Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia mulai terasa di berbagai daerah. Salah satunya di Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, yang menggelar kirab budaya dengan melibatkan puluhan komunitas dan peserta sound horeg, Sabtu (8/8/2026) sore.
Sebanyak 18 peserta sound horeg ambil bagian dalam kegiatan yang dikemas sebagai karnaval budaya tersebut. Dentuman musik dari deretan sound system mengiringi rombongan yang menyusuri jalur kirab, disambut antusias warga dari berbagai penjuru desa.
Rombongan mulai diberangkatkan sekitar pukul 16.00 WIB oleh panitia bersama Kepala Desa Tampo, Hasim Ashari, yang turut hadir menyaksikan langsung jalannya kegiatan.
Di tengah suasana meriah, panitia mengingatkan seluruh peserta dan masyarakat agar tetap mengutamakan keselamatan selama kegiatan berlangsung.
“Harapan saya acara kirab ini berjalan lancar, semuanya bahagia, dan yang paling penting semuanya selamat sampai kegiatan selesai,” pesan Hasim kepada peserta dan masyarakat.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan. Kemerdekaan, menurut semangat yang dibangun dalam perayaan tersebut, bukan semata-mata tentang kemeriahan, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan dan kebersamaan warga.
Tiga Dusun Bersatu dalam Semarak Kemerdekaan
Semarak kirab budaya melibatkan masyarakat dari tiga dusun di Desa Tampo, yakni Dusun Krajan, Dusun Sumber 1, dan Dusun Sumber 2.
Keterlibatan masyarakat dari berbagai wilayah tersebut menunjukkan tingginya antusiasme warga dalam menyambut peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Jalanan desa berubah menjadi ruang ekspresi masyarakat. Warga keluar rumah untuk menyaksikan rombongan yang membawa beragam konsep, kreativitas, serta karakter masing-masing.
Deretan sound horeg menjadi salah satu daya tarik utama. Dentuman musik yang terdengar sepanjang jalur kirab membuat suasana semakin semarak, sekaligus menjadi bagian dari perkembangan ekspresi seni dan hiburan masyarakat dalam perayaan kemerdekaan.
Namun, perhatian warga tidak hanya tertuju pada kekuatan sound system.
BEC Hadirkan Sentuhan Kreativitas Budaya Banyuwangi
Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah peserta yang mengusung konsep busana bernuansa Banyuwangi Ethno Carnival (BEC).
Kostum dengan sentuhan etnik dan gaya karnaval modern tersebut memberikan warna berbeda di tengah parade sound horeg. Unsur budaya Banyuwangi dipadukan dengan kreativitas busana kekinian sehingga menciptakan penampilan yang atraktif dan menarik perhatian masyarakat.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa perkembangan hiburan masyarakat tidak harus meninggalkan akar budaya lokal.
Tradisi, identitas daerah, kreativitas generasi muda, dan perkembangan seni pertunjukan dapat berjalan beriringan dalam satu ruang ekspresi.
Kehadiran konsep BEC dalam kirab Desa Tampo juga menjadi gambaran bagaimana budaya lokal Banyuwangi terus menemukan ruang baru untuk diperkenalkan kepada masyarakat melalui berbagai bentuk kreativitas.
Bukan Sekadar Sound, tetapi Ruang Kebersamaan
Kirab budaya Desa Tampo pada akhirnya bukan hanya tentang kemeriahan suara atau siapa yang memiliki sound system paling besar.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan masyarakat untuk merayakan kemerdekaan secara bersama-sama.
Tiga dusun dalam satu desa hadir dalam satu momentum. Perbedaan konsep, kostum, dan kreativitas peserta justru menjadi bagian dari warna perayaan.
Semangat yang dibangun adalah kebersamaan: tiga dusun, satu desa, satu perayaan untuk Indonesia.
Dengan 18 peserta sound horeg yang ikut ambil bagian, kirab sore tersebut menjadi salah satu warna tersendiri dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kecamatan Cluring.
Antusiasme masyarakat juga menunjukkan bahwa perayaan kemerdekaan masih memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial masyarakat desa. Ruang-ruang kebersamaan seperti ini dapat menjadi sarana mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitasnya.
Di tengah dentuman musik, kostum karnaval, dan kerumunan warga, pesan Kepala Desa Tampo, Hasim Ashari, menjadi catatan penting dalam kegiatan tersebut: perayaan kemerdekaan boleh berlangsung meriah, tetapi keselamatan, ketertiban, dan kebahagiaan bersama harus tetap menjadi prioritas.
Kirab sound horeg Desa Tampo pun menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana semangat kemerdekaan dapat dirayakan melalui kreativitas masyarakat—dengan tetap menjaga persaudaraan, budaya lokal, dan keselamatan bersama.
