BANYUWANGI, Selendangsutra.id – Pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Pancasila terus ditanamkan kepada peserta didik melalui berbagai metode pembelajaran yang kreatif dan aplikatif. Salah satunya dilakukan oleh siswa kelas VI SD Negeri (SDN) 4 Kebaman, Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi, Fiko Adi Purnama, yang melaksanakan tugas wawancara dengan narasumber sebagai bagian dari pembelajaran Pendidikan Pancasila.
Fiko yang didampingi orang tuanya, mengunjungi Kantor Redaksi Media Selendangsutra.id pada Minggu (26/7/2026) untuk mewawancarai Suyanto mengenai implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan tersebut menjadi contoh nyata bagaimana proses pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melibatkan interaksi langsung dengan masyarakat guna memperkaya wawasan serta membangun kemampuan komunikasi, berpikir kritis, dan karakter peserta didik.
Mengawali wawancara, Suyanto menyambut baik kedatangan Fiko dan mengapresiasi tugas yang diberikan sekolah.
“Selamat pagi, hari ini ada siswa dari SDN 4 Kebaman dengan nama Fiko Adi Purnama yang datang untuk melakukan wawancara sebagai bagian dari tugas sekolah,” ujar Suyanto.
Sementara itu, Fiko menjelaskan bahwa kunjungannya merupakan amanah dari guru untuk mencari informasi langsung dari narasumber mengenai penerapan nilai-nilai Pancasila.
“Assalamualaikum Pak, saya Fiko Adi Purnama, kelas VI SDN 4 Kebaman. Saya mendapat tugas dari ibu guru untuk melakukan wawancara tentang Pancasila,” tuturnya dengan penuh semangat.
Pancasila Harus Diamalkan Secara Utuh
Dalam sesi wawancara, Suyanto menegaskan bahwa kelima sila Pancasila merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan harus diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, setiap sila memiliki makna mendalam yang saling melengkapi sebagai pedoman hidup bangsa Indonesia, mulai dari nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, hingga keadilan sosial.
“Kalau berbicara penerapan nilai-nilai Pancasila, sebenarnya seluruh lima sila harus diamalkan karena semuanya saling berkaitan dan menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat,” jelasnya.
Ketuhanan Menjadi Fondasi Kehidupan
Saat ditanya sila yang paling sering diterapkan, Suyanto mengaku selalu menjadikan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai landasan utama dalam menjalani kehidupan.
Menurutnya, manusia memiliki kewajiban untuk beribadah kepada Tuhan sekaligus menjaga hubungan baik dengan sesama sebagai wujud pengamalan nilai-nilai keagamaan.
Selain itu, ia menilai sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, juga sangat dekat dengan kehidupan masyarakat melalui budaya gotong royong, saling membantu, serta kepedulian terhadap sesama.
Ia bahkan menjadikan kedatangan Fiko sebagai contoh sederhana nilai kemanusiaan.
“Adik datang meminta bantuan untuk menyelesaikan tugas sekolah, lalu saya membantu. Itu juga merupakan bentuk saling menolong yang termasuk pengamalan nilai kemanusiaan,” katanya.
Menjaga Persatuan di Tengah Keberagaman
Dalam kesempatan tersebut, Suyanto juga menekankan pentingnya pengamalan sila ketiga, Persatuan Indonesia, terutama di tengah masyarakat yang terdiri dari beragam suku, agama, budaya, dan latar belakang.
Menurutnya, toleransi, komunikasi yang baik, serta sikap saling menghargai merupakan kunci utama menjaga kerukunan.
“Walaupun berbeda agama maupun pandangan, kita tetap satu bangsa Indonesia. Kalau terjadi perbedaan pendapat, harus diselesaikan dengan komunikasi dan semangat persatuan agar kerukunan tetap terjaga,” ujarnya.
Gotong Royong Masih Menjadi Budaya Masyarakat
Suyanto juga mengungkapkan bahwa budaya gotong royong masih hidup dan berkembang di lingkungan tempat tinggalnya.
Berbagai kegiatan sosial seperti kerja bakti membersihkan lingkungan, menjaga keamanan, hingga saling membantu warga yang membutuhkan masih rutin dilakukan sebagai bentuk implementasi nilai Pancasila.
Menurutnya, budaya tersebut menjadi modal sosial yang harus terus dipertahankan di tengah perkembangan zaman.
Generasi Muda Didorong Mengamalkan Pancasila Lewat Tindakan Nyata
Menutup wawancara, Suyanto berharap generasi muda tidak hanya memahami Pancasila secara teori, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari melalui tindakan nyata.
Ia menekankan pentingnya menjauhi perbuatan yang bertentangan dengan hukum maupun norma sosial serta mampu memilih pergaulan yang positif.
“Pancasila jangan hanya dihafalkan, tetapi harus diamalkan melalui perbuatan nyata. Anak-anak harus bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik agar kelak menjadi generasi yang mampu membawa Indonesia semakin maju,” pesannya.
Setelah seluruh pertanyaan terjawab, Fiko menyampaikan bahwa materi wawancara yang diperolehnya telah lengkap dan mengucapkan terima kasih kepada narasumber atas waktu serta penjelasan yang diberikan.
Kegiatan sederhana tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan karakter akan lebih bermakna ketika peserta didik diberi kesempatan belajar langsung dari pengalaman nyata di tengah masyarakat. Melalui pendekatan seperti ini, nilai-nilai Pancasila tidak hanya dipahami sebagai materi pelajaran, tetapi juga dihayati dan dipraktikkan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari, sejalan dengan upaya membentuk generasi muda yang berkarakter, toleran, dan berjiwa kebangsaan.
