JAKARTA, Selendangsutra.id – Reformasi 1998 menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perjalanan demokrasi Indonesia. Gerakan tersebut membawa harapan besar akan terwujudnya pemerintahan yang lebih demokratis, bersih, transparan, serta berorientasi pada kepentingan rakyat.
Namun, setelah lebih dari dua dekade, sejumlah kalangan menilai cita-cita reformasi masih memerlukan penyempurnaan. Menurut mereka, tantangan yang dihadapi bangsa saat ini tidak hanya berkaitan dengan sistem politik dan birokrasi, tetapi juga menyangkut kualitas kepemimpinan nasional yang diharapkan memiliki integritas, akhlak yang baik, kemampuan memimpin, serta nasionalisme yang kuat.
HR. Dody menyampaikan bahwa dinamika politik Indonesia saat ini masih membutuhkan pembenahan agar tata kelola pemerintahan semakin efektif, profesional, dan berorientasi pada kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Ia menilai sejarah Indonesia telah memberikan teladan bahwa para raja, sultan, ulama, dan tokoh bangsa dari berbagai daerah mampu mengesampingkan kepentingan masing-masing demi membangun persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Semangat persatuan, pengorbanan, dan kebangsaan tersebut dinilai menjadi fondasi yang harus terus diwariskan kepada setiap generasi pemimpin.
Dalam pandangan tersebut, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dipersepsikan oleh para pendukungnya sebagai momentum untuk memperkuat berbagai agenda pembenahan nasional, mulai dari reformasi birokrasi, penegakan hukum, pembangunan ekonomi, hingga penguatan persatuan nasional.
Sementara itu, kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dipandang sebagai bagian dari regenerasi kepemimpinan nasional. Sebagai wakil presiden termuda, Gibran dinilai memiliki kesempatan untuk memperkaya pengalaman pemerintahan, meningkatkan kapasitas kepemimpinan, memperkuat semangat patriotisme, serta membangun kedekatan dengan generasi muda dalam menghadapi tantangan Indonesia di masa depan.
Menurut H. Dody, esensi reformasi tidak hanya terletak pada perubahan sistem, tetapi juga pada lahirnya pemimpin-pemimpin yang memiliki integritas, kompetensi, moralitas, dan keberpihakan kepada rakyat.
“Harapan terbesar dari perjalanan reformasi adalah hadirnya pemimpin yang mampu mengutamakan kepentingan bangsa dan rakyat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Dengan demikian, cita-cita para pendiri bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur dapat terus diwujudkan melalui kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai kebangsaan,” tulis H. Dody dalam refleksinya.
Refleksi tersebut menjadi pengingat bahwa semangat Reformasi 1998 merupakan proses yang terus berjalan. Keberhasilan reformasi pada akhirnya tidak hanya diukur dari perubahan regulasi dan kelembagaan, tetapi juga dari lahirnya kepemimpinan nasional yang mampu menjaga persatuan, memperkuat demokrasi, serta membawa Indonesia menuju kemajuan yang berkelanjutan.
