BANYUWANGI, Selendangsutra.id – Solidaritas Santri Nusantara (SSN) bersama berbagai elemen masyarakat dan kalangan perencana pembangunan mendorong pemerintah menyusun Blueprint Pembangunan Indonesia 100 Tahun sebagai pedoman utama pembangunan nasional yang berkelanjutan, lintas pemerintahan, serta bebas dari kepentingan politik jangka pendek.
Menurut Dewan Pembina Solidaritas Santri Nusantara, H. R. Dody Iwa Kusuma Jaya, Indonesia memerlukan sebuah peta jalan pembangunan nasional yang memiliki visi hingga satu abad ke depan agar setiap pergantian kepemimpinan tetap berada dalam satu arah pembangunan yang jelas dan konsisten.
“Bangsa sebesar Indonesia tidak boleh terus-menerus memulai perencanaan pembangunan dari nol setiap lima tahun sekali. Kita membutuhkan sebuah blueprint nasional 100 tahun yang menjadi kompas bagi seluruh pemimpin bangsa, sehingga siapa pun presidennya tetap menjalankan cita-cita besar Indonesia menuju negara maju, adil, makmur, dan berdaulat,” ujar Dody.
Ia menilai, selama beberapa dekade terakhir berbagai pemerintahan telah melahirkan program-program strategis yang membawa manfaat bagi masyarakat. Namun dalam praktiknya, dinamika politik dan pergantian kepemimpinan kerap menyebabkan terputusnya kesinambungan program pembangunan, sehingga banyak agenda nasional yang tidak berjalan secara optimal.
Karena itu, SSN memandang penyusunan Blueprint Indonesia 100 Tahun sebagai kebutuhan strategis bangsa agar pembangunan tidak lagi bergantung pada visi pribadi seorang pemimpin, melainkan berlandaskan pada kesepakatan nasional yang mengikat seluruh elemen negara.
Blueprint tersebut diharapkan mencakup seluruh sektor strategis, mulai dari pendidikan, kesehatan, pembangunan sumber daya manusia, ekonomi nasional, ketahanan pangan, ketahanan energi, hilirisasi industri, penguasaan teknologi, perlindungan lingkungan hidup, hingga penguatan ketahanan nasional, keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), serta penanaman nilai-nilai nasionalisme bagi seluruh rakyat Indonesia.
Selain menjadi pedoman bagi pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dokumen tersebut juga diharapkan menjadi acuan bersama bagi dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, dan generasi muda dalam mengawal arah pembangunan nasional secara berkelanjutan.
Dody menegaskan bahwa semangat Reformasi telah membawa banyak perubahan positif bagi Indonesia. Namun menurutnya, bangsa ini juga memerlukan arah pembangunan jangka panjang yang lebih kokoh agar cita-cita menjadi negara maju tidak terus berubah mengikuti dinamika politik lima tahunan.
“Indonesia membutuhkan visi pembangunan yang melampaui kepentingan politik sesaat. Persatuan, kebhinekaan, dan kesinambungan pembangunan harus menjadi fondasi utama menuju Indonesia Emas. Dengan adanya blueprint 100 tahun, seluruh komponen bangsa memiliki arah yang sama dalam membangun negeri,” katanya.
Solidaritas Santri Nusantara juga menyatakan siap berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan nasional melalui penguatan kualitas sumber daya manusia santri yang dinilai memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam berbagai sektor pembangunan.
SSN mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama menyusun agenda pembangunan jangka panjang yang berorientasi pada kepentingan nasional, sehingga cita-cita mewujudkan Indonesia yang mandiri, berdaya saing, sejahtera, dan berdaulat dapat diwujudkan secara konsisten hingga satu abad mendatang.
“Harapan para santri adalah harapan seluruh rakyat Indonesia. Kami ingin Indonesia memiliki masa depan yang terarah, konsisten, dan berkelanjutan. Semoga semangat Indonesia Maju dan Indonesia Emas benar-benar menjadi kenyataan bagi generasi mendatang,” tutup Dody.
