BANYUWANGI, selendangsutra.id – Gelombang kebahagiaan dan rasa syukur menyelimuti keluarga besar Pondok Pesantren Mansya’ul Huda, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, saat KH. M. Ibnu Shodiq Faim bersama istri tercinta, Ny. Hj. Inarotul Mudliah, tiba kembali dari Tanah Suci usai menunaikan ibadah haji, Rabu malam (23/6/2026) sekitar pukul 20.30 WIB.

Kepulangan pasangan yang baru menyempurnakan rukun Islam kelima tersebut disambut langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Mansya’ul Huda, KH. Fathulloh Suyuti Thoha, didampingi para masyayikh, keluarga besar pesantren, santri, tokoh masyarakat, serta ratusan jama’ah yang telah memadati area pondok sejak sore hari.
Lantunan shalawat Nabi Muhammad SAW yang dikumandangkan para santri melalui iringan hadrah menggema penuh khidmat. Suasana religius begitu terasa, menghadirkan nuansa syukur yang mendalam atas kembalinya tamu Allah SWT ke tengah-tengah keluarga dan jama’ah dalam keadaan sehat wal afiat.
Tangis haru pun pecah di berbagai sudut lokasi penyambutan. Tidak sedikit jama’ah yang menitikkan air mata sebagai ungkapan cinta kepada para ulama dan rasa syukur atas keselamatan perjalanan ibadah haji yang telah ditunaikan dengan baik.
Setibanya di lingkungan pesantren, KH. M. Ibnu Shodiq Faim dan Ny. Hj. Inarotul Mudliah langsung menuju masjid pondok untuk melaksanakan sujud syukur. Seluruh rangkaian berlangsung penuh kekhusyukan, mencerminkan akhlak tawadhu’ serta tradisi luhur pesantren yang senantiasa mengedepankan rasa syukur kepada Allah SWT dalam setiap nikmat dan karunia-Nya.

Dalam kesempatan tersebut, KH. M. Ibnu Shodiq Faim yang merupakan menantu kedua KH. Fathulloh Suyuti Thoha berbagi pengalaman selama menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Di hadapan para jama’ah, beliau mengungkapkan rasa syukur karena seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar.
”Alhamdulillah, haji yang kedua ini diberikan kesehatan dan kemudahan oleh Allah SWT. Hanya mengalami batuk ringan akibat cuaca yang sangat panas, namun tidak sampai mengganggu pelaksanaan ibadah,” tutur beliau.
Beliau juga membandingkan pengalaman hajinya kali ini dengan pelaksanaan haji sebelumnya yang berlangsung pada musim dingin. Menurutnya, kondisi cuaca yang berbeda memberikan pengalaman tersendiri dalam menjalankan rangkaian ibadah di Kota Makkah Al-Mukarramah.
KH. M. Ibnu Shodiq Faim menambahkan bahwa meskipun suhu udara sangat tinggi, dirinya merasakan kondisi fisik tetap segar selama berada di Tanah Suci. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu pengalaman spiritual yang sulit dijelaskan secara logika, namun dirasakan langsung oleh para jama’ah haji.
Beliau juga pentingnya menjaga kesehatan selama berada di Tanah Suci, mengingat pemerintah Arab Saudi terus memberikan imbauan kepada seluruh jama’ah agar memperhatikan kondisi fisik di tengah suhu panas yang cukup ekstrem.

Momentum kepulangan ini sekaligus menjadi majelis silaturahmi yang mempertemukan para santri, alumni, tokoh masyarakat, dan jama’ah dari berbagai daerah. Sejumlah tamu bahkan datang dari luar Banyuwangi untuk menyampaikan doa, ucapan selamat, serta mengambil berkah dari kebersamaan bersama para ulama.
Sementara itu, KH. Fathulloh Suyuti Thoha menyampaikan rasa syukur atas kepulangan menantunya beserta keluarga dalam keadaan sehat dan penuh keberkahan. Beliau berharap kemabruran haji yang diraih dapat membawa manfaat tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi umat dan masyarakat luas.
”Kami berharap sepulang dari Tanah Suci, keberkahan ibadah haji ini semakin memperkuat perjuangan dakwah, pendidikan, serta pengabdian kepada umat. Semoga menjadi teladan bagi para santri dan masyarakat dalam meningkatkan keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT,” ungkapnya.

Kehadiran ratusan jama’ah dalam penyambutan tersebut menjadi bukti nyata bahwa pesantren dan ulama masih menjadi pusat pembinaan moral, spiritual, dan persatuan umat. Di tengah derasnya arus modernisasi, pesantren tetap hadir sebagai benteng akhlak dan penjaga nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin.

Penyambutan penuh kehangatan itu bukan sekadar seremoni kepulangan jama’ah haji, melainkan juga menjadi momentum mempererat ukhuwah Islamiyah, memperkokoh silaturahmi, serta meneguhkan peran pesantren sebagai pilar penting dalam membangun peradaban bangsa yang berakhlakul karimah.
