BANYUWANGI, Selendangsutra.id – Semangat persatuan, kebangsaan, dan penguatan nilai-nilai spiritual mewarnai pelaksanaan Hari Lahir (Harlah) ke-56 Pondok Pesantren Mansya’ul Huda yang dirangkaikan dengan Istighotsah Jama’ah Dzikir Nurul Wathon untuk keselamatan bangsa dan negara, Selasa (16/6/2026), di Pondok Pesantren Mansya’ul Huda, Dusun Gempoldampit, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi.

Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-56 Pondok Pesantren Mansya’ul Huda yang dirangkaikan dengan Istighotsah Akbar dan Dzikir Nasional Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal-Khithoh Indonesia menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan persatuan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut mempertemukan unsur ulama, pemerintah daerah, TNI, Polri, organisasi masyarakat, serta tokoh pendidikan dalam satu forum kebersamaan guna memperkuat persaudaraan, menjaga stabilitas nasional, dan memanjatkan doa bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Acara yang diinisiasi oleh Pengasuh Pondok Pesantren Mansya’ul Huda, KH. Fathulloh Suyuti Thoha selaku Mursyidul ‘Am Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal-Khithoh Indonesia ini berlangsung khidmat dan penuh semangat kebangsaan. Kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, tokoh nasional, tokoh agama, serta para pemimpin organisasi dari berbagai provinsi di Indonesia pada Selasa, 16 Juni 2026.

Tampak hadir dalam kesempatan tersebut Mayjen TNI (Mar) Dr. Oni Junianto, S.A.P., M.M., M.Tr.Opsla. selaku Komandan Pasmar 2 Surabaya, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, S.Pd., M.KP., Wakapolresta Banyuwangi AKBP Teguh Priyo Wasono, S.I.K. mewakili Kapolresta Banyuwangi, Danlanal Banyuwangi Letkol Laut (P) Muhammad Puji Santoso, M.Sc., serta Kasdim 0825 Banyuwangi Mayor Kav Suprapto yang mewakili Dandim 0825 Banyuwangi.

Hadir pula Pengasuh Pondok Pesantren Minhajut Thullab Krikilan Banyuwangi KH. Thoha Muntaha, Ketua APTRI sekaligus Ketua Kwarda Gerakan Pramuka Jawa Timur H. M. Arum Sabil, Ketua DPW Masyarakat Adat Nusantara (MATRA) Jawa Timur KPP. Srie Soeputro Jowo Uja Ciptonagoro (Mr. Abie),

Selain itu juga Hadir Tenaga ahli bidang ekonomi dan ketahanan pangan nasional Rio Parnando, SE, M.Kom dari Jakarta, Habib Ja’far dari Jakarta, Sekretaris DPW Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal-Khitoh Indonesia Arif Prasetyo DKI Jakarta bersama rombongan, Kepala DPMPTSP Kabupaten Banyuwangi Henik Setyorini, AP., M.Si., Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi Dwi Handayani, S.T., M.Si., serta berbagai tokoh masyarakat dan tokoh lintas daerah.

Turut menghadiri kegiatan tersebut unsur Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) Tegaldlimo, yakni Camat Tegaldlimo Trisetia Supriyanto, S.STP., M.Si., Danramil Kapten Inf. Edi Supriono, Kapolsek Tegaldlimo AKP Sadimun, S.H., beserta jajaran Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

Dari unsur organisasi dan masyarakat hadir Ketua PGRI Kabupaten Banyuwangi Sudarman, S.Pd., M.Si.,sekaligus Ketua DPC jama’ah Dzikir Nurul Wathon kabupaten Banyuwangi, Ketua DPW Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Kalimantan Timur Sayid Rahman bersama Sekretaris H. Supriyanto, S.E.,, Direktur Utama Lembaga Amil Zakat Nasional (LAS) Sandi Suwandi dari Jakarta, Pendiri Media Online Selendangsutra.id Hariyono, Habib Mustofa Banyuwangi, Ketua Yayasan Barokah Sinergi Terpadu Darsono, Drs. H. Nur Hasyim, M.Pd. selaku Ketua FKUB Kecamatan Tegaldlimo, serta Kyai Makruf Al Kharki selaku Ketua MUI Kecamatan Tegaldlimo.

Selain itu, kegiatan juga dihadiri oleh personel TNI-Polri, ratusan anggota PGRI Banyuwangi, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, para ustaz, kiai, gus, habaib, santri, jajaran Fatayat NU Kecamatan Tegaldlimo, serta ribuan Jamaah Dzikir Nurul Wathon yang datang dari berbagai daerah.

Rangkaian acara diawali dengan penampilan Hadrah Personel TNI-Polri yang memukau para hadirin, dilanjutkan dengan pemutaran video dokumentasi kegiatan Istighotsah Majelis Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal-Khithoh Indonesia. Acara kemudian dibuka secara resmi oleh pembawa acara (MC), dilanjutkan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Nuansa nasionalisme dan religiusitas semakin terasa saat seluruh peserta bersama-sama menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Ya Lal Wathon, serta lagu Perjuangan Buya Hamka. Selanjutnya dilaksanakan Istighotsah dan Dzikir Nurul Wathon yang dipimpin langsung oleh KH. Fathulloh Suyuti Thoha.

Pada sesi sambutan, Ketua Umum Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal-Khithoh Indonesia yang diwakili oleh Ketua DPC Banyuwangi, Sudarman, S.Pd., M.Si., menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga persatuan umat, memperkuat nilai-nilai kebangsaan, serta meningkatkan kecintaan kepada agama dan tanah air.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan Mau’idzah Hasanah dan doa yang disampaikan oleh KH. Thoha Muntaha, Pengasuh Pondok Pesantren Minhajut Thullab Krikilan Banyuwangi. Tausiyah yang disampaikan menegaskan pentingnya mempererat ukhuwah Islamiyah, menjaga kerukunan antarumat, serta memperkuat komitmen bersama dalam membangun bangsa yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Momentum tersebut semakin bermakna dengan tausiyah yang disampaikan KH. Toha Muntaha, yang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat keimanan, menjaga kerukunan, serta mendukung pembangunan nasional melalui kontribusi positif di lingkungan masing-masing.

Kehadiran unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat dalam satu majelis doa menjadi simbol kuat sinergitas antarelemen bangsa dalam menjaga stabilitas, keamanan, serta keharmonisan sosial. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa pesantren tetap menjadi pusat pembinaan moral, spiritual, dan kebangsaan yang berperan strategis dalam memperkuat persatuan Indonesia.

Acara berlangsung pukul 13.00.Wib berjalan dengan tertib, aman, dan penuh kekhidmatan hingga selesai pada pukul 15.00 WIB. Melalui peringatan Harlah ke-56 ini, Pondok Pesantren Mansya’ul Huda menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam membangun generasi berakhlak mulia, memperkuat nilai-nilai keislaman yang moderat, serta menjaga keutuhan NKRI melalui dakwah, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam sambutannya, Pengasuh Pondok Pesantren Mansya’ul Huda sekaligus Mursyidul ‘Am Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal-Khithoh Indonesia, KH. Fathulloh Suyuti Thoha, mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan panjang pesantren yang telah mengabdi selama 56 tahun dalam mencetak generasi Islam yang berakhlak mulia, berwawasan kebangsaan, serta memiliki komitmen kuat terhadap persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menurutnya, peringatan Harlah bukan sekadar mengenang sejarah dan perjalanan panjang lembaga pendidikan yang dipimpinnya, tetapi juga menjadi momentum refleksi untuk memperkuat komitmen pengabdian kepada umat, bangsa, dan negara. “Pesantren memiliki tanggung jawab moral untuk terus menanamkan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin, memperkuat persatuan, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Istighotsah ini merupakan ikhtiar spiritual untuk memohon perlindungan Allah SWT bagi bangsa Indonesia agar senantiasa diberikan keamanan, kedamaian, dan keberkahan,” ujar KH. Fathulloh Suyuti Thoha.

Ia menegaskan bahwa di tengah berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks, doa dan ikhtiar bersama menjadi fondasi penting dalam menjaga harmoni sosial, memperkokoh persaudaraan, serta memperkuat semangat kebangsaan di tengah masyarakat.
Lebih lanjut, KH. Fathulloh Suyuti Thoha menjelaskan bahwa pelaksanaan Istighotsah Akbar dan Dzikir Nasional yang melibatkan unsur TNI, Polri, ulama, santri, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen bangsa merupakan bentuk ikhtiar batiniah untuk memohon keselamatan bagi bangsa dan negara. “Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama memanjatkan doa bagi Indonesia agar senantiasa diberikan keamanan, kedamaian, persatuan, dan keberkahan. Doa juga kami panjatkan untuk Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, serta seluruh pemimpin bangsa agar diberikan kekuatan, kebijaksanaan, dan amanah dalam menjalankan tugas serta tanggung jawabnya kepada rakyat dan negara,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, KH. Fathulloh Suyuti Thoha juga mengisahkan sejarah awal berdirinya Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal-Khithoh Indonesia yang lahir sebagai gerakan spiritual dan kebangsaan untuk memperkuat kecintaan kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, serta tanah air Indonesia.

Menurutnya, keberadaan jamaah dzikir tidak hanya menjadi wadah pembinaan spiritual umat, tetapi juga sarana mempererat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah sebagai pilar utama dalam menjaga persatuan bangsa.

Ia menegaskan bahwa Dzikir Nasional yang diselenggarakan setiap tahun bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari gerakan moral dan spiritual untuk memperkuat kesadaran kebangsaan serta membangun optimisme masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. “Dzikir Nasional ini merupakan momentum strategis untuk memperkokoh ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kami berharap seluruh jamaah dan masyarakat dapat hadir, mengambil manfaat spiritual, serta menjadikan kegiatan ini sebagai sarana mempererat persaudaraan dan meningkatkan kecintaan kepada bangsa dan negara,” tegasnya.

Melalui peringatan Harlah ke-56 Pondok Pesantren Mansya’ul Huda dan Dzikir Nasional tersebut, KH. Fathulloh Suyuti Thoha berharap nilai-nilai keagamaan, kebangsaan, dan persatuan dapat terus tumbuh dan mengakar kuat di tengah masyarakat, sehingga Indonesia senantiasa menjadi bangsa yang damai, maju, dan diberkahi Allah SWT.
