BANYUWANGI, Selendangsutra.id – Di tengah meningkatnya dinamika geopolitik global yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, peran ulama dan tokoh masyarakat dinilai semakin strategis dalam menjaga persatuan, memperkuat ketahanan sosial, serta merawat harmoni kebangsaan.

Hal tersebut mengemuka dalam silaturahmi tokoh lintas provinsi yang berlangsung di kediaman KH. Fathulloh Suyuti Thoha, Pengasuh Pondok Pesantren Mansya’ul Huda, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Pertemuan tersebut pada Minggu (14/6/2026) malam pukul 19.30 hingga tengah malam pukul 00.00 wib itu menghadirkan sejumlah tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, serta pemerhati kebangsaan dari berbagai daerah, di antaranya Jakarta, Malang, dan Yogyakarta.

Forum tersebut menjadi ruang dialog strategis untuk membahas berbagai isu nasional, perkembangan geopolitik internasional, serta penguatan peran ulama dalam mendukung stabilitas dan pembangunan bangsa.

Hadir dalam kegiatan tersebut Romo Fadjar Tedjo Soekarno bersama rombongan dari Malang, Ustaz Sandi bersama rombongan dari Jakarta, serta AM Putut Prabantoro, alumnus PPSA XXI dan mantan Tenaga Profesional (Taprof) Bidang Ideologi Lemhannas RI dari Yogyakarta.

Dalam suasana hangat penuh kekeluargaan, puluhan para tokoh agama lintas provinsi berdiskusi mengenai tantangan yang dihadapi Indonesia di tengah perubahan tatanan dunia, mulai dari konflik geopolitik antarnegara, ketahanan pangan dan energi, transformasi digital, hingga ancaman polarisasi sosial yang berpotensi mengganggu persatuan bangsa.

KH. Fathulloh Suyuti Thoha menegaskan bahwa ulama memiliki tanggung jawab moral dan kebangsaan untuk terus hadir sebagai penjaga nilai-nilai moderasi, persatuan, dan perdamaian di tengah masyarakat.
Menurutnya, tantangan global yang semakin kompleks tidak hanya memerlukan kebijakan pemerintah yang kuat, tetapi juga dukungan dari para tokoh agama dalam membangun kesadaran masyarakat agar tetap menjaga persatuan dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang dapat memecah belah bangsa.
“Kerukunan tidak cukup hanya menjadi slogan, tetapi harus diwujudkan melalui dialog, silaturahmi, dan kerja sama nyata. Ulama dan tokoh masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjaga suasana yang kondusif serta memperkuat persatuan bangsa di tengah berbagai dinamika nasional maupun global,” ujar KH. Fathulloh.

Sementara itu, AM Putut Prabantoro menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, ulama, akademisi, dan masyarakat sipil dalam memperkuat ketahanan ideologi bangsa. Menurutnya, perkembangan geopolitik dunia saat ini menuntut Indonesia untuk terus memperkuat karakter kebangsaan dan menjaga persatuan sebagai modal utama menghadapi berbagai tantangan masa depan.
Ia menilai forum-forum dialog lintas daerah dan lintas agama memiliki nilai strategis sebagai sarana diplomasi kebudayaan sekaligus ruang bertukar gagasan untuk membangun solusi bersama terhadap berbagai persoalan kebangsaan.

Para tokoh agama juga membahas pentingnya meningkatkan literasi kebangsaan dan literasi digital di tengah derasnya arus informasi global. Ulama dan tokoh masyarakat dinilai memiliki peran sentral dalam memberikan edukasi kepada masyarakat agar mampu menyaring informasi secara bijak serta menjaga persaudaraan di tengah perbedaan pandangan.
Selain membahas isu geopolitik dan kebangsaan, forum tersebut juga menekankan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan aksi nyata melalui kegiatan sosial, pendidikan karakter, penguatan ekonomi masyarakat, kepedulian lingkungan, serta pembinaan generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa di masa depan.
Silaturahmi lintas provinsi ini menjadi simbol kuat bahwa komunikasi dan kolaborasi antara ulama, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen bangsa merupakan bagian penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di tengah perubahan global yang berlangsung cepat, persatuan nasional, moderasi beragama, dan penguatan nilai-nilai kebangsaan menjadi fondasi utama untuk mewujudkan Indonesia yang damai, maju, dan berdaya saing.
Melalui forum seperti ini, para tokoh berharap lahir berbagai gagasan konstruktif yang dapat mendukung pembangunan nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai bangsa yang menjunjung tinggi toleransi, persaudaraan, dan perdamaian dalam percaturan dunia internasional.
