0-3968x2976-0-0-{}-0-24#
BANYUWANGI, Selendangsutra.id – Persiapan pelaksanaan Dzikir Nasional dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-56 Pondok Pesantren Mansya’ul Huda serta menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah terus dimatangkan. Hal tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Mursyidul A’am Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal-Khithoh Indonesia, KH. Fathulloh Suyuti Thoha sekaligus pengasuh ponpes Mansya’ul Huda Tegaldlimo dengan Ketua Umum DPP Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal-Khithoh Indonesia, Prof. Dr. Drs. Teguh Sumarno, M.M., yang berlangsung pada Sabtu malam pukul 18.30 WIB.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat, penuh kekeluargaan, dan sarat semangat kebersamaan tersebut membahas berbagai aspek teknis maupun substansi kegiatan yang akan digelar pada Selasa, 16 Juni 2026 pukul 13.00 WIB di halaman Pondok Pesantren Mansya’ul Huda, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Dalam kesempatan itu, kedua tokoh menegaskan pentingnya sinergi seluruh elemen organisasi, panitia, pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat guna menyukseskan agenda besar yang diproyeksikan menjadi momentum penguatan nilai-nilai keagamaan, kebangsaan, serta persatuan umat.
Mursyidul A’am Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal-Khithoh Indonesia, KH. Fathulloh Suyuti Thoha, menyampaikan bahwa Dzikir Nasional tahun ini diperkirakan akan dihadiri ribuan jamaah dari berbagai daerah di Indonesia.
“Insya Allah kegiatan Dzikir Nasional ini akan menjadi ajang silaturahmi akbar yang mempertemukan para ulama, kiai, habaib, ustaz, tokoh masyarakat, santri, serta jamaah dari berbagai wilayah. Selain memperingati Harlah Pondok Pesantren Mansya’ul Huda ke-56, kegiatan ini juga menjadi momentum menyambut Tahun Baru Islam dengan memperkuat dzikir, doa, dan kecintaan kepada bangsa dan negara,” ujar KH. Fathulloh Suyuti Thoha.
Beliau menjelaskan, rangkaian kegiatan telah dipersiapkan secara matang. Acara akan diawali dengan penampilan hadrah Islami, dilanjutkan paduan suara yang melibatkan unsur TNI dan Polri dengan membawakan sejumlah lagu bernuansa nasionalisme dan keagamaan, di antaranya Mars Nurul Wathon, lagu Buya Hamka, serta Yalal Wathon.
Menurut KH. Fathulloh Suyuti Thoha, inti kegiatan adalah pelaksanaan Istighotsah Akbar dan Dzikir Nasional bersama TNI, Polri, ulama, santri, dan masyarakat sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk mendoakan keselamatan bangsa dan negara.
“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama memanjatkan doa bagi Indonesia agar senantiasa diberikan keamanan, kedamaian, persatuan, dan keberkahan. Doa juga akan dipanjatkan untuk Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto serta seluruh pemimpin bangsa agar diberikan kekuatan, kebijaksanaan, dan amanah dalam menjalankan tugasnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Umum DPP Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal-Khithoh Indonesia, Prof. Dr. Drs. Teguh Sumarno, M.M., menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan bagian dari upaya memperkuat ukhuwah Islamiyah dan semangat kebangsaan di tengah masyarakat.
“Dzikir Nasional ini merupakan momentum strategis untuk memperkokoh ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, serta memperkuat komitmen bersama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kami berharap seluruh jamaah dan masyarakat dapat hadir serta mengambil manfaat spiritual dari kegiatan ini,” kata Prof. Teguh Sumarno.
Dalam pertemuan tersebut, Prof. Teguh Sumarno juga menyinggung perkembangan konsolidasi organisasi Jama’ah Dzikir Nurul Wathon di berbagai daerah. Ia membahas secara singkat mengenai penguatan struktur kepengurusan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) di Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur, dan Sulawesi sebagai langkah memperluas dakwah serta memperkuat peran organisasi di tingkat nasional.
Menurutnya, kehadiran tokoh nasional, ulama, akademisi, serta berbagai elemen masyarakat dari sejumlah daerah akan semakin memperkuat pesan bahwa nilai-nilai keislaman dan kebangsaan harus berjalan beriringan dalam membangun Indonesia yang damai, maju, dan bermartabat.
Dengan persiapan yang terus dimatangkan, Dzikir Nasional dan Harlah ke-56 Pondok Pesantren Mansya’ul Huda diharapkan menjadi salah satu agenda keagamaan terbesar di Banyuwangi yang mampu menghadirkan energi positif, mempererat persaudaraan, memperkuat persatuan bangsa, serta meneguhkan peran pesantren sebagai pusat pendidikan, pembinaan umat, dan penjaga nilai-nilai kebangsaan di Indonesia.
(Pewarta Yanto Pimred)
