BANYUWANGI, Selendangsutra.id – Momentum peringatan kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, menjadi refleksi penting bagi Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal-Kithoh Indonesia untuk meneguhkan kembali nilai-nilai kebangsaan, persatuan, dan cinta tanah air.
Bertempat di Masjid Pondok Pesantren Pondok Pesantren Mansya’ul Huda, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, jama’ah bersama para santri, tokoh agama, dan tokoh masyarakat menggelar doa bersama serta istighotsah kebangsaan dalam rangka mengenang hari kelahiran Bung Karno yang lahir pada 6 Juni 1901.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu malam (6/6/2026) pukul 19.30 WIB tersebut dipimpin langsung oleh KH. Fathulloh Suyuti Thoha pengasuh Pondok Pesantren Mansya’ul Huda. Suasana khidmat dan penuh kekeluargaan menyelimuti rangkaian acara yang diisi dengan dzikir, doa bersama, pembacaan istighotsah, serta refleksi sejarah perjuangan bangsa.
Dalam tausiyahnya, KH. Fathulloh Suyuti Thoha menegaskan bahwa mengenang kelahiran Bung Karno bukan sekadar mengenang sosok pemimpin bangsa, melainkan juga meneladani semangat perjuangan, keberanian, dan pengorbanannya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
“Bung Karno adalah tokoh besar yang mewariskan semangat persatuan dan nasionalisme. Generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk menjaga keutuhan bangsa serta mengisi kemerdekaan dengan karya, akhlak, dan pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, nilai-nilai yang diwariskan oleh Bung Karno tetap relevan di tengah berbagai tantangan kebangsaan saat ini. Persatuan, gotong royong, dan kecintaan terhadap tanah air harus terus dirawat oleh seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda.
Dalam kesempatan tersebut, jama’ah juga mendoakan para pendiri bangsa, pahlawan nasional, ulama, serta seluruh pemimpin yang telah berjasa bagi Indonesia. Doa dipanjatkan agar bangsa Indonesia senantiasa diberikan kedamaian, persatuan, dan keberkahan dalam mewujudkan cita-cita menuju Indonesia yang maju dan berkeadilan.
Bung Karno, yang lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 6 Juni 1901, dikenal sebagai Proklamator Kemerdekaan dan Presiden pertama Republik Indonesia. Putra dari Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai tersebut tumbuh menjadi sosok visioner yang memimpin perjuangan bangsa hingga mencapai kemerdekaan pada tahun 1945.
Jejak perjuangannya yang dimulai sejak masa muda terus menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa. Semangat nasionalisme yang diwariskannya tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam menjaga persatuan dan kedaulatan Indonesia.
Melalui kegiatan doa dan istighotsah kebangsaan ini, Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal-Kithoh Indonesia berharap nilai-nilai perjuangan Bung Karno dapat terus hidup di tengah masyarakat serta menjadi inspirasi dalam memperkuat ukhuwah, persatuan, dan komitmen bersama untuk membangun Indonesia yang lebih maju, bermartabat, dan berdaulat.
