Surabaya – Selendangsutra.id – Ketua PW MATRA Jatim, KPP. SRIE SOEPUTRO JOWO UJA CIPTONAGORO, mengecam keras aksi anarkis yang terjadi dalam demonstrasi di Surabaya dan Kediri. Beliau menyayangkan aksi pembakaran Rumah Dinas Wakil Gubernur Emil Dardak di lingkungan Gedung Grahadi Surabaya, serta penjarahan benda-benda artefak di Museum Kediri oleh demonstran, yang sebagian besar adalah anak remaja yang kini telah ditangkap oleh polisi.
KPP. SRIE SOEPUTRO JOWO UJA CIPTONAGORO, yang juga menjabat sebagai Ketua Masyarakat Adat, mengungkapkan keprihatinannya atas tindakan anarkis yang merusak peninggalan sejarah dan cagar budaya. ”Yang jelas, kita sebagai orang adat dan budaya sangat menyayangkan demo itu dilakukan dengan anarkis. Apalagi menghancurkan komponen peninggalan sejarah dan Cagar budaya. Itu tidak diperkenankan,” tegasnya. Beliau menambahkan bahwa sebagai bangsa Indonesia, seharusnya menjunjung tinggi adat sopan santun dan andap asor. Menurutnya, tindakan anarkis tersebut mungkin dilakukan oleh oknum tertentu saja. ”Saya mengutuk keras, sangat merugikan bangsa dan negara. Terutama untuk Cagar-Cagar yang harus dijaga. Jangan sampai demo menyuarakan aspirasi rakyat, tapi merusak Cagar Budaya dan menjarah Museum Kediri,” ujarnya. KPP. SRIE SOEPUTRO JOWO UJA CIPTONAGORO menilai bahwa aksi demo tersebut dapat menjadi pengingat bagi para pemimpin di DPR RI. Beliau mengatakan bahwa pemerintah memiliki kekurangan, sehingga rakyat bergerak untuk menyampaikan aspirasi. ”Sebenarnya, selanjutnya, yang diresafel itu sintemnya, bukan orangnya. Tapi kalau orangnya aman, mungkin lebih baik. Intinya adanya komplin dari masyarakat adanya ketidakpuasaannya. Tapi tidak boleh anarkis,” jelasnya. Beliau menegaskan bahwa aksi anarkis tidak dapat dibenarkan, apalagi sampai menyebabkan adanya korban jiwa. ”Tidak harus dilakukan anarkis dan sampai ada yang meninggal dunia. Sangat tidak diperkenankan. Sangat mengutuk keras anarkisme terhadap aparat dan rakyat,” tegasnya. KPP. SRIE SOEPUTRO JOWO UJA CIPTONAGORO mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga Surabaya, Indonesia, dan Jawa Timur. Beliau menekankan pentingnya memanusiakan manusia dan menjaga persatuan Indonesia. ”Ayo rek jago Suroboyo, jogo Indonesia, jogo Jawa Timur. Kita memanusia dan memanusiakan. Kita jaga persatuan Indonesia. Terutama Kediri sangat mengerikan, karena merupakan barometer sejarah bangsa Indonesia yang ada di sana,” pungkasnya. (Pewarta Yanto Pimred)