0-3968x2976-0-0-{}-0-24#
Banyuwangi, Selendangsutra.id – Desa Kepundungan, Kecamatan Srono, tampak berbeda pada Kamis (28/08/2025). Jalan-jalan desa mendadak dipadati oleh ribuan warga yang tumpah ruah mengikuti dan menyaksikan kirab budaya dalam rangka memperingati HUT ke-80 Republik Indonesia.

Dengan penuh semangat, walaupun para peserta karnaval di guyur hujan tetap menampilkan ragam busana tradisional Jawa yang dipadukan dengan sentuhan modern. Setiap langkah mereka bukan sekadar pawai, melainkan perwujudan rasa cinta tanah air dan penghormatan terhadap warisan leluhur

Alunan gamelan berpadu dengan musik modern mengiringi tarian tradisional yang dikemas dengan nuansa kontemporer, sound karnaval yang membuat suasana terasa magis sekaligus membangkitkan kebanggaan.

Pawai Budaya yang diikuti oleh ribuan pelajar dari berbagai jenjang lembaga pendidikan, mulai dari RA, TK, MI, SD yang berjumlah 10 regu lembaga pendidikan dan 15 regu peserta tingkat umum, berlangsung pada Kamis, 28 Agustus 2025, menampilkan beragam busana dan kesenian tradisional Nusantara, menunjukkan keberagaman budaya Indonesia. Peserta karnaval menempuh rute sepanjang 3 kilometer, melewati jalan utama Desa Kepundungan.

Kirab budaya tersebut mendapatkan pengamanan dan pengawalan ketat dari seluruh panitia, semua jajaran staf dan perangkat Pemdes, Polsek Srono melalui Bhabinkamtibmas, Bhabinsa dari Koramil 0825/08 Srono, Linmas, Banser, dan seluruh peserta parade yang telah berpartisipasi.

Acara yang dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Kepundungan, Baitu Rohim, ini menampilkan beragam budaya Nusantara.

Kepala Desa Kepundungan, Baitu Rohim, yang turut hadir dan juga melepas jalannya kirab tersebut menegaskan bahwa kirab budaya bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana untuk merawat identitas masyarakat.

“Melestarikan budaya, adat istiadat, dan tradisi adalah kewajiban kita bersama. Tradisi yang diwariskan oleh leluhur adalah pesan kebaikan, agar kita tidak lupa jati diri kita sebagai orang Jawa. Tradisi Jawa yang sopan, santun, dan saling menghormati telah diakui dunia. Maka mari kita nguri-uri warisan ini dengan sepenuh hati,” ungkap Kades.

Di tengah riuhnya acara, salah satu peserta kirab juga mengungkapkan rasa bangganya. Ia menyebut bahwa bisa tampil dengan balutan busana tradisional dan ikut menarikan tarian daerah adalah pengalaman yang tak ternilai, sekaligus cara sederhana untuk menunjukkan kecintaan pada budaya sendiri.

Demi menjaga suasana tetap kondusif, Baitu Rohim memberikan imbauan tegas namun menyejukkan.
“Kami mengingatkan masyarakat, mari kita jaga kerukunan dalam perayaan ini. Jangan sampai ada yang membuat kegaduhan. Khusus untuk para pemuda, jauhi alkohol agar tidak memicu hal-hal yang merugikan kita semua. Mari rayakan kemerdekaan dengan penuh suka cita, damai, dan tertib,” pesannya.

Kirab budaya di Desa Kepundungan ini bukan hanya pesta rakyat, tetapi juga pengingat bahwa merawat tradisi sama halnya dengan menjaga kebaikan. Sebab, nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur bukan sekadar ritual, melainkan jalan hidup untuk tetap menghormati sesama, menjaga persatuan, dan mengisi kemerdekaan dengan kebajikan” Pungkanya.
