BANYUWANGI – Selendangsutra.id _ Euforia Tour de Banyuwangi Ijen (TdBI) 2025 membuncah di Banyuwangi. Tidak hanya di lintasan, antusiasme warga juga terlihat di berbagai tempat, dari pinggir jalan hingga layar kaca.
Warung-warung, seperti Warung Bakso Lesehan Hijau di Desa Sraten, menjadi tempat nonton bareng (nobar) TdBI. Pemilik warung, Abdullah, sengaja menayangkan siaran langsung TdBI di layar besar, sebuah tradisi tahunan yang dinikmati bersama pelanggannya.
Warga Banyuwangi memiliki cara unik menikmati TdBI. Ada yang menunggu di pinggir jalan, menyaksikan lewat ponsel, atau sengaja mendatangi rute balapan. TdBI bukan sekadar tontonan, tetapi bagian dari ritme tahunan yang ditunggu-tunggu. Bahkan warga di luar rute pun rela datang untuk menyaksikan langsung aksi para pembalap.
Ismail, seorang guru, rela menempuh perjalanan dari Kecamatan Genteng, meski rumahnya tidak dilalui rute, hanya untuk menyaksikan TdBI. Sukirno, warga Desa Jelun, ikut bersorak memberi semangat kepada para pembalap. Agus, pedagang buah dari Siliragung, meski tak dilalui rute, tetap merasakan kebanggaan.
Pengamat sosial, Ir. KH. Ahmad Wahyudi, melihat TdBI menciptakan energi kolektif. Warga rela berdiri berjam-jam memberi semangat, menunjukkan rasa memiliki terhadap acara ini. Dampaknya bukan hanya ekonomi, tetapi juga sosial, menggerakkan gotong royong dan memberi inspirasi bagi generasi muda.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyebut TdBI telah menjadi tradisi dan peristiwa budaya, dirayakan dengan sukacita oleh seluruh masyarakat. Di tahun ke-10, TdBI bukan hanya lomba, tetapi bagian dari identitas Banyuwangi.
