BANYUWANGI, Selendangsutra.id – Tradisi ruwatan sebagai sarana membersihkan diri dari kesialan dan gangguan makhluk halus, prosesi sakral seperti ini masih dijalankan di masyarakat Jawa. Rabu malam (16/7/2025), acara berlangsung pukul 20.00 WIB.

sebuah tradisi Jawa yang kaya makna dan spiritualitas berlangsung di Dusun Temurejo, Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi. Kyai sepuh yang dihormati, Abah Nursamsi, menggelar ruwatan tahunan bagi para santrinya. Acara ini bukan sekadar ritual, melainkan perwujudan dari keyakinan dan praktik keagamaan yang masih hidup dan diwariskan turun-temurun di masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Banyuwangi.

Prosesi Ruwatan dalam konteks budaya Jawa, merupakan upacara yang bertujuan untuk membersihkan diri dari pengaruh negatif, baik yang bersifat fisik maupun metafisik. Diyakini bahwa setiap individu dapat terpengaruh oleh “sengkala” atau nasib buruk yang dapat menyebabkan kesialan, penyakit, atau bahkan malapetaka. Melalui ruwatan, individu tersebut memohon perlindungan dan berkah kepada Tuhan Yang Maha Esa agar terhindar dari pengaruh negatif tersebut dan mendapatkan keberuntungan serta keselamatan. Dalam konteks ruwatan yang dilakukan Abah Nursamsi, tujuannya adalah untuk memohon keselamatan dan keberkahan bagi para santrinya, sekaligus memperkuat ikatan spiritual antara guru dan murid.

Acara ruwatan yang digelar Abah Nursamsi diawali dengan selamatan, sebuah tradisi Jawa yang melibatkan doa dan pemberian makanan kepada para tamu undangan sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan. Suasana penuh kekhidmatan dan keakraban terasa di antara para santri dan warga sekitar yang hadir. Keunikan acara ini terletak pada persiapan yang dilakukan oleh Abah Nursamsi dan para santrinya yang telah menjalankan puasa ngrowot selama tujuh hari. Puasa ini merupakan bentuk persembahan dan pengorbanan spiritual untuk mencapai kesucian batin dan kesiapan mental dalam menjalani ritual ruwatan.

Puncak acara ritual yang dipimpin langsung oleh Abah Nursamsi. Detail ritualnya mungkin tidak diungkapkan secara terbuka, karena mengandung unsur kerahasiaan dan kesakralan. Namun, umumnya, ritual ruwatan melibatkan doa, mantra, dan simbol-simbol tertentu yang bertujuan untuk menangkal pengaruh negatif dan memohon perlindungan ilahi. Sebagai tanda kebersamaan dan berbagi berkah, sebanyak 40 ingkung ayam kampung dibagikan kepada warga dan para santri setelah selesainya ritual.


Acara ini dihadiri oleh para santri Abah Nursamsi yang berasal dari berbagai daerah, menunjukkan luasnya pengaruh dan jangkauan pengajaran beliau. Kehadiran tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat juga menjadi bukti pentingnya acara ini dalam konteks sosial dan keagamaan di Banyuwangi. Partisipasi mereka menunjukkan dukungan dan penghormatan terhadap tradisi Jawa yang masih lestari.


Dalam sambutannya, Abah Nursamsi menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada para tamu undangan yang hadir dan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga sekitar yang telah hadir serta berpartisipasi dalam acara ruwatan tersebut. Beliau berharap acara ini membawa hidayah dan keberkahan bagi seluruh santri yang hadir”Ucapnya

Abah Nursamsi menjelaskan Ruwatan santri ini diadakan secara rutin tiap tahun tepat di bulan syuro malam 21 , Ruwatan tahunan yang digelar merupakan contoh nyata dari pelestarian tradisi Jawa yang sarat makna spiritual. Acara ini tidak hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat ikatan sosial, mempererat hubungan guru dan murid, dan memohon berkah serta perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Keberlangsungan tradisi ini menunjukkan kekayaan budaya Jawa dan pentingnya menjaga warisan leluhur untuk generasi mendatang. Semoga tradisi ini terus lestari dan menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk tetap memegang teguh nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal” Ungkapnya
