
ACEH , Selendangsutra.id — Upaya mengembangkan minyak nilam premium di Kabupaten Bener Meriah terus dilakukan oleh Elite Agriculture melalui kegiatan budi daya, penyulingan, dan riset kualitas minyak nilam. Perusahaan tersebut berupaya mendorong kebangkitan nilam Aceh sebagai salah satu komoditas unggulan dalam industri minyak atsiri dunia.
ACEH — Upaya mengembangkan minyak nilam premium di Kabupaten Bener Meriah terus dilakukan oleh Elite Agriculture melalui kegiatan budi daya, penyulingan, dan riset kualitas minyak nilam. Perusahaan tersebut berupaya mendorong kebangkitan nilam Aceh sebagai salah satu komoditas unggulan dalam industri minyak atsiri dunia.
Direktur Elite Agriculture, Dody Iwa Kusumajaya, mengatakan bahwa pengembangan nilam di kawasan Pintu Rime Gayo tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga pada peningkatan mutu, efisiensi pengolahan, dan keberlanjutan usaha petani.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian perusahaan adalah kualitas minyak nilam berdasarkan hasil pengujian laboratorium. Dokumen pengujian GC-MS (Gas Chromatography–Mass Spectrometry) yang diterbitkan oleh Laboratorium Teknik Pengujian Kualitas Lingkungan, Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, mencantumkan senyawa patchouli alcohol dengan nilai Area% sebesar 50,71% pada sampel minyak nilam yang diuji.
Patchouli alcohol merupakan salah satu senyawa penanda penting dalam penilaian mutu minyak nilam. Senyawa ini memiliki peran besar dalam karakter aroma minyak nilam dan menjadi salah satu parameter yang diperhatikan dalam perdagangan minyak atsiri.
Selain patchouli alcohol, laporan tersebut juga mencatat sejumlah senyawa lain, termasuk α-guaiene sebesar 11,38%, α-bulnesene sebesar 4,51%, dan germacrene sebesar 1,97%, berdasarkan persentase area puncak kromatogram.
Hasil pengujian tersebut menjadi informasi pendukung bagi upaya pengembangan kualitas minyak nilam. Meski demikian, nilai Area% GC-MS perlu dibedakan dari kadar absolut yang ditentukan melalui metode kuantifikasi tervalidasi. Penetapan kelas premium dan kesesuaian dengan spesifikasi pembeli tetap memerlukan pemeriksaan parameter mutu yang relevan.
Riset Budi Daya dan Penyulingan
Dody menjelaskan bahwa perusahaan masih terus melakukan pembelajaran dan pengujian untuk menemukan pola budi daya nilam yang produktif dan konsisten.
Menurutnya, salah satu tantangan yang pernah dihadapi adalah keterlambatan kesiapan instalasi penyulingan. Kondisi tersebut berdampak pada penyesuaian jadwal panen, yang dalam kasus tertentu dapat berubah dari sekitar enam bulan menjadi sepuluh bulan.
Pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya mengintegrasikan budi daya dengan kesiapan fasilitas pengolahan agar hasil panen dapat ditangani tepat waktu dan mutu minyak lebih terjaga.
Elite Agriculture juga mempelajari penggunaan mulsa plastik, pemupukan organik, serta kesesuaian lahan berdasarkan ketinggian dan kondisi lingkungan. Kawasan pada ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut menjadi salah satu kondisi yang ingin dievaluasi lebih lanjut melalui riset lapangan.
Penyulingan Berbasis Gas
Dalam kegiatan pengolahan, perusahaan menggunakan dua unit alat penyulingan berbahan bakar gas. Menurut keterangan perusahaan, kapasitas produksi yang dilaporkan mencapai sekitar 10 liter minyak nilam per hari.
Angka ini perlu dikaitkan dengan catatan produksi aktual, rendemen bahan baku, dan lama operasi untuk menilai efisiensi usaha secara menyeluruh.
Penggunaan bahan bakar gas diharapkan dapat mendukung proses penyulingan yang lebih terkendali. Penerapan teknologi tersebut tetap perlu disertai pengelolaan keselamatan kerja, efisiensi energi, dan pengendalian emisi.
Mengembalikan Kepercayaan Petani
Bagi Dody, pengembangan nilam tidak akan berhasil tanpa keterlibatan petani. Kepastian teknik budi daya, akses penyulingan, pengujian mutu, dan pemasaran menjadi faktor penting untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap komoditas nilam.
Elite Agriculture berharap riset yang dilakukan di Pintu Rime Gayo dapat membantu menemukan pola budi daya dan pengolahan yang lebih efektif. Dengan dukungan teknologi, pengujian laboratorium, dan kemitraan yang baik, nilam berpotensi menjadi sumber pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat posisi Aceh dalam industri minyak atsiri.
Pengembangan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga membangun ekosistem usaha nilam yang berkelanjutan, mulai dari petani, proses penyulingan, pengujian laboratorium, hingga pemasaran ke pasar yang lebih luas.
Melakukan riset agar nilam Aceh mampu menghasilkan minyak berkualitas, memiliki pasar yang jelas, dan memberikan manfaat ekonomi bagi petani,” demikian semangat pengembangan yang disampaikan Dody.
Pengembangan nilam di Bener Meriah menjadi bagian dari upaya membangun pertanian Aceh yang berorientasi pada kualitas, inovasi, dan nilai tambah. Dengan pembuktian mutu yang konsisten serta sistem produksi yang terintegrasi, peluang untuk memperkuat daya saing minyak nilam Aceh di pasar internasional dapat terus dikembangkan.
(HR DODY)
