YOGYAKARTA. Selendangsutra.id – Perjalanan spiritual dan kebangsaan yang dipimpin Pengasuh Pondok Pesantren Mansya’ul Huda Banyuwangi, KH. Fathulloh Suyuti Thoha, mendapat apresiasi luas dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari H. Ramadhan Gatot Sietikno, tokoh Dewan Masjid Sleman, Yogyakarta, yang menilai kegiatan tersebut sebagai wujud nyata perpaduan antara nilai keagamaan, semangat persatuan umat, dan kecintaan terhadap bangsa Indonesia.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung pada Minggu (31/5/2026) diawali dengan ziarah kebangsaan ke makam Panglima Besar Jenderal Soedirman di Yogyakarta sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Setelah itu, rombongan Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hambalangi Wal-Khitoh Indonesia melaksanakan Dzikir Akbar dan doa bersama di Masjid Gedhe Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dihadiri rombongan jamaah dari berbagai daerah.

Menurut H. Ramadhan Gatot Sietikno, perjalanan yang ditempuh KH. Fathulloh Suyuti Thoha memiliki makna yang sangat mendalam, bukan hanya dari sisi spiritual, tetapi juga sebagai simbol keteguhan perjuangan dalam mempererat ukhuwah Islamiyah dan memperkuat semangat kebangsaan.
“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Romo Kyai KH. Fathulloh Suyuti Thoha atas perjalanan silaturahmi ke Yogyakarta dalam rangka ziarah di makam Panglima Besar Jenderal Soedirman dan pelaksanaan Dzikir Akbar di Masjid Gedhe Kesultanan Ngayogyakarta. Perjalanan spiritual tersebut membutuhkan waktu sekitar 12 jam menggunakan kereta api dari Stasiun Ketapang Banyuwangi menuju Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Di usia beliau yang telah menginjak 86 tahun, semangat dan kekuatan fisik yang ditunjukkan merupakan teladan bagi generasi muda dan umat Islam pada umumnya,” ungkap H. Ramadhan.»
Ia menilai, dedikasi dan keteguhan KH. Fathulloh Suyuti Thoha dalam menempuh perjalanan panjang demi dakwah, silaturahmi, dan dzikir kebangsaan menjadi bukti bahwa perjuangan tidak mengenal batas usia.

Lebih lanjut, H. Ramadhan berharap kehadiran Jama’ah Dzikir Nurul Wathon di Yogyakarta dapat meninggalkan jejak positif dalam memperkuat persaudaraan umat Islam di tengah keberagaman pemahaman yang berkembang di masyarakat.
«“Semoga perjalanan silaturahmi Romo Kyai Suyuti beserta rombongan meninggalkan benih-benih perjuangan ukhuwah Islamiyah yang semakin mempererat kerukunan antarumat Islam. Perbedaan pandangan hendaknya menjadi kekuatan untuk saling
memahami, menghormati, dan membangun persaudaraan dalam bingkai kebersamaan,” ujarnya.»
Menurutnya, kegiatan yang memadukan dzikir, doa bersama, silaturahmi, dan penghormatan kepada pahlawan bangsa merupakan bentuk ikhtiar membangun karakter umat yang religius, cinta tanah air, serta memiliki komitmen kuat dalam menjaga persatuan nasional.
Momentum tersebut juga dinilai sebagai sarana memperkuat sinergi antara ulama, tokoh masyarakat, dan jamaah dari berbagai daerah dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan yang berlandaskan Islam rahmatan lil ‘alamin.
Di akhir keterangannya, H. Ramadhan Gatot Sietikno mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat persatuan dan memperkuat kebersamaan melalui kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyejukkan serta berorientasi pada kemaslahatan bangsa.
“Bismillah, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan keberkahan, kesehatan, dan kemudahan kepada Romo Kyai Suyuti Thoha beserta seluruh jamaah dalam melanjutkan perjuangan dakwah, dzikir, dan penguatan persatuan umat. Semoga segala ikhtiar yang dilakukan menjadi manfaat bagi agama, bangsa, dan negara menuju Indonesia yang damai, harmonis, dan penuh keberkahan,” pungkasnya.»
Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa dakwah dan dzikir tidak hanya membangun kedekatan spiritual kepada Allah SWT, tetapi juga mampu memperkokoh persatuan bangsa, menumbuhkan rasa cinta tanah air, serta mempererat tali persaudaraan antarsesama anak bangsa.
