BANYUWANGI, Selendangsutra.id — Suasana khidmat penuh mahabbah kepada ulama menyelimuti peringatan Haul ke-7 Almaghfurlah KH. Maimoen Zubair atau yang akrab disapa Mbah Moen, yang digelar Keluarga Besar Pondok Pesantren Mansya’ul Huda Tegaldlimo, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis malam (21/05/2026).

Kegiatan haul yang rutin digelar setiap tahun tersebut dipimpin langsung oleh Pengasuh Ponpes Mansya’ul Huda, KH. Fathulloh Suyuti Thoha, bersama ratusan jamaah alumni Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah, yang berdomisili di wilayah Banyuwangi dan sekitarnya.

Majelis haul berlangsung di kediaman KH. M. Ibnu Shodiq Faim dan dipenuhi para santri, alumni, habaib, ulama, sesepuh, wali santri, muhibbin, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, serta keluarga besar Ponpes Mansya’ul Huda. Sejak pukul 20.00 WIB, jamaah tampak memadati lokasi dengan nuansa religius khas pesantren yang sarat adab dan kekhidmatan.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan tausiyah oleh KH. Fathulloh Suyuti Thoha, kemudian pembacaan Surah Yasin, tahlil, dan doa bersama yang diimami KH. Mufid. Acara ditutup dengan sambutan kebangsaan dan pesan spiritual yang kembali disampaikan KH. Suyuti Thoha kepada seluruh jamaah yang hadir.
Dalam tausiyahnya, KH. Fathulloh Suyuti Thoha mengenang sosok Mbah Moen sebagai ulama sepuh Ahlussunnah Wal Jamaah yang memiliki keluasan ilmu, kewibawaan, dan karomah luar biasa. Menurutnya, panggilan “Mbah Moen” lahir dari rasa hormat umat kepada seorang kiai sepuh yang hidupnya diabdikan untuk dakwah, pendidikan pesantren, dan perjuangan umat.
“Beliau adalah ulama yang berkaromah. Wafat di tanah suci Makkah dan dimakamkan di Ma’la menjadi tanda kemuliaan beliau di sisi Allah SWT. Dalam sabda Nabi disebutkan, orang yang wafat di Makkah-Madinah dan dimakamkan di Ma’la termasuk golongan yang mendapat kemuliaan dan keselamatan,” tutur KH. Suyuti di hadapan jamaah.
KH. Suyuti juga menyampaikan kisah yang banyak beredar di kalangan para masyayikh terkait kondisi jasad Mbah Moen saat proses pemindahan makam di Ma’la. Ia menyebut para petugas makam dibuat terkejut karena jasad Mbah Moen masih utuh, harum semerbak, dan kain kafannya tetap tampak bersih. “Itu semua bukan karena beliau mencari kemuliaan dunia, tetapi karena istiqamah beliau dalam ilmu, dzikir, sholawat, dan khidmah kepada umat,” ungkapnya dengan penuh haru.
Di hadapan para alumni dan santri, KH. Suyuti juga mengenang masa-masa dirinya menimba ilmu langsung di Ponpes Al-Anwar Sarang sejak tahun 1966, tidak lama setelah masa G30S/PKI. Ia mengaku menjadi saksi bagaimana Mbah Moen mendidik para santri dengan keteguhan akidah Ahlussunnah Wal Jamaah serta kecintaan mendalam kepada Rasulullah SAW.
“Saya menyaksikan sendiri bagaimana Mbah Moen menjaga ajaran para ulama dan gurunya dengan penuh tanggung jawab. Beliau selalu menekankan kepada santri agar memperbanyak sholawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW,” kenangnya.
Menurut KH. Suyuti, hingga hari ini dirinya masih merasakan bimbingan ruhani dari sang guru. Ia menilai keberkahan ilmu dan doa para masyayikh menjadi kekuatan utama dalam menjaga perjuangan pesantren dan jamaah di tengah perkembangan zaman.
Dalam penutupan tausiyahnya, Pengasuh Pondok Pesantren Mansya’ul Huda Tegaldlimo Banyuwangi sekaligus tokoh ulama kharismatik, KH. Fathulloh Suyuti Thoha, menyampaikan bahwa Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hanbalangi Wal-Khitoh Indonesia akan menggelar Dzikir Akbar dan doa bersama di makam Panglima Besar Jenderal Sudirman di Yogyakarta pada Minggu, 31 Mei 2026 mendatang.
Kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan bangsa sekaligus ikhtiar spiritual untuk memperkuat semangat nasionalisme religius di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Ribuan jama’ah dari berbagai daerah dijadwalkan hadir dalam agenda kebangsaan dan keagamaan tersebut.

Dalam penyampaiannya, KH. Suyuti menegaskan bahwa dzikir dan doa bersama itu tidak hanya menjadi momentum mengenang perjuangan Panglima Besar Jenderal Sudirman, tetapi juga sebagai ajakan mempererat persatuan nasional serta memohon keselamatan bagi bangsa Indonesia.
“Melalui dzikir dan doa bersama ini, kami berharap Indonesia senantiasa diberikan keamanan, persatuan, keberkahan, dan dijauhkan dari segala bentuk perpecahan,” ungkap KH. Suyuti di hadapan jama’ah.
Selain mendoakan keselamatan bangsa dan negara, Jama’ah Dzikir Nurul Wathon juga akan memanjatkan doa khusus bagi para pemimpin nasional agar senantiasa diberikan kekuatan, kesehatan, keikhlasan, dan amanah dalam menjalankan tanggung jawab kepada rakyat Indonesia.
Doa tersebut secara khusus ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar senantiasa mendapat perlindungan Allah SWT, diberikan kesehatan, umur panjang, serta kemampuan menjalankan amanat rakyat dengan penuh tanggung jawab demi kemajuan Indonesia.
Agenda Dzikir Akbar di makam Jenderal Sudirman ini dipandang sebagai simbol perpaduan nilai spiritualitas, perjuangan, dan nasionalisme, yang selama ini menjadi bagian dari visi perjuangan Jama’ah Dzikir Nurul Wathon Al-Hanbalangi Wal-Khitoh Indonesia dalam menjaga ukhuwah, persatuan, dan kecintaan terhadap Tanah Air.

“Semoga dengan haul ini kita semua, khususnya para alumni Sarang dan para santri, diberikan hidayah, istiqamah dalam menjalankan perintah Allah SWT, serta memperoleh keberkahan dari para ulama salafus shalih,” pungkas KH. Fathulloh Suyuti Thoha.
