BANYUWANGI, Selendangsutra.id – Aura khidmat dan nuansa spiritual yang kental menyelimuti pertemuan antara ulama kharismatik KH. Fathulloh Suyuti Thoha dan Bayu Soekarnoputra merupakan putra Presiden pertama Republik Indonesia yaitu Ir. Soekarno dengan Ibu Hartini. Silaturahmi yang berlangsung di Pondok Pesantren Mansy’aul Huda, Tegaldlimo, Banyuwangi, Selasa (7/4/2026), tidak sekadar menjadi ajang pertemuan biasa, melainkan momentum kebangkitan kesadaran kebangsaan melalui jejak spiritual dan sejarah yang sarat makna.

Kedatangan Bayu Soekarnoputra disambut hangat oleh KH. Fathulloh Suyuti Thoha dalam suasana penuh kekeluargaan. Namun di balik kehangatan itu, tersimpan getaran batin yang mendalam, seolah pertemuan dua tokoh ini telah terhubung dalam satu garis tak kasat mata antara masa lalu, masa kini, dan masa depan bangsa.
Dalam dialog yang berlangsung tertutup namun sarat makna, keduanya menegaskan bahwa napak tilas ke kawasan Taman Nasional Alas Purwo bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin untuk menelusuri jejak energi spiritual yang diyakini telah lama menjadi bagian dari sejarah perjuangan bangsa. Alas Purwo, yang dikenal sebagai salah satu titik tua di Pulau Jawa ujung timur, menyimpan lapisan sejarah, mitos, dan kekuatan alam yang hingga kini masih terasa.

Usai pertemuan, rombongan bergerak menuju Alas Purwo. Setibanya di lokasi, suasana berubah menjadi lebih hening dan sakral. Angin berhembus pelan di antara pepohonan tua, seakan menyambut langkah-langkah napak tilas yang penuh penghormatan.
KH. Fathulloh Suyuti Thoha kemudian mengajak Bayu Soekarnoputra menuju Gapura Merah Putih, sebuah simbol batas antara dunia lahir dan ruang kontemplasi batin. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menuju Goa Istana. Di tempat yang dikenal memiliki aura spiritual kuat itu, prosesi doa dipimpin langsung oleh KH. Fathulloh.

Dalam keheningan goa, lantunan doa menggema, menciptakan resonansi yang menghadirkan suasana haru sekaligus khusyuk.

Perjalanan berlanjut menuju Sendang Matahari, tempat pengambilan air wudhu sebagai simbol penyucian diri. Air yang mengalir jernih di tengah hutan tua itu dipercaya bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi juga lambang kejernihan hati dan niat dalam menapaki jalan pengabdian kepada bangsa.
KH. Fathulloh Suyuti Thoha menegaskan bahwa kekuatan Indonesia tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik dan kekuasaan, tetapi juga pada kekuatan spiritual yang mengakar dalam budaya dan sejarah bangsa. “Bangsa ini besar karena memiliki ruh. Jika ruh itu dijaga melalui nilai-nilai spiritual dan persatuan, maka Indonesia akan tetap kokoh dalam menghadapi segala tantangan zaman,” tegasnya.
Sementara itu, Bayu Soekarnoputra menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap jejak sejarah sekaligus upaya merawat ingatan kolektif bangsa. Ia menilai Alas Purwo bukan hanya kawasan konservasi, tetapi juga ruang refleksi yang menyimpan pesan mendalam dari perjalanan para pendahulu.
“Sejarah bukan untuk dikenang semata, tetapi untuk dihidupkan kembali sebagai inspirasi. Dari tempat-tempat seperti inilah kita belajar tentang keteguhan, keberanian, dan kedekatan dengan Sang Pencipta,” ungkap Bayu.
Pertemuan ini menjadi sorotan karena berhasil merajut dua dimensi penting Spiritualitas dan nasionalisme, dalam satu rangkaian perjalanan yang utuh. Di tengah derasnya arus modernitas, pesan yang kembali digaungkan terasa kuat dan relevan: bahwa silaturahmi, penghormatan terhadap sejarah, serta penyelarasan batin adalah fondasi utama dalam membangun Indonesia yang berdaulat, berkarakter, dan penuh kesadaran akan jati dirinya.
Dalam balutan nuansa mistis yang tidak terlepas dari kearifan lokal, napak tilas ini seakan menjadi pengingat bahwa perjalanan bangsa Indonesia tidak hanya ditulis oleh peristiwa, tetapi juga oleh energi, doa, dan nilai-nilai luhur yang terus hidup di dalamnya.
Perjalanan napak tilas yang sarat nilai spiritual dan historis tersebut turut mendapat pengawalan ketat dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) melalui Kodim 0825 Banyuwangi. Pengamanan dilakukan secara terukur dan penuh kedisiplinan guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan khidmat.
Komandan Kodim 0825 Banyuwangi, Triyadi Indra Wijaya, yang diwakili oleh anggota Provos, Seger, memimpin langsung pengawalan di lapangan. Kehadiran aparat TNI tidak hanya sebagai bentuk pengamanan, tetapi juga mencerminkan sinergi antara unsur pertahanan negara dengan kegiatan spiritual kebangsaan.
(Pewarta Yanto Pimred)
