0-3968x2976-0-0-{}-0-24#
Banyuwangi, Selendangsutra.id – Malam-malam terakhir bulan suci Ramadhan menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di saat umat Muslim menanti datangnya malam penuh kemuliaan, Lailatul Qadar, para santri di Kabupaten Banyuwangi mengisinya dengan berbagai amalan ibadah dalam rangka ngalab berkah dan memohon rahmat Ilahi.
Suasana religius dan penuh kekhusyukan tampak di kediaman ulama kharismatik Banyuwangi, Abah Nursamsi, yang berlokasi di Dusun Temurejo, Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, pada Sabtu malam (14/3/2026).
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 23.00 WIB tersebut diikuti oleh para santri, tokoh agama, serta tokoh masyarakat dari berbagai wilayah di Banyuwangi. Turut hadir pula unsur Gerakan Pemuda Ansor dan Banser Kecamatan Bangorejo yang ikut serta dalam ibadah tersebut.
Rangkaian kegiatan diawali dengan tausiah dari sejumlah tokoh agama yang menguraikan makna dan keistimewaan malam Lailatul Qadar. Para jamaah tampak khusyuk menyimak penjelasan para ulama tentang keutamaan malam yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Setelah tausiah, kegiatan dilanjutkan dengan dzikir berjamaah, pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, serta doa bersama yang berlangsung hingga larut malam di halaman luar rumah.
Nuansa spiritual yang mendalam terasa menyelimuti kegiatan tersebut, menjadikan malam Ramadhan semakin sakral dan penuh keberkahan.
Dalam kesempatan itu, Abah Nursamsi menyampaikan bahwa tradisi ngalab berkah di malam Lailatul Qadar telah menjadi bagian dari budaya spiritual yang hidup di kalangan pesantren.
“Lailatul Qadar adalah malam yang sangat agung dan penuh kemuliaan. Malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, dzikir, doa, serta membaca Al-Qur’an sebagai bentuk ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon keberkahan hidup,” tutur Abah Nursamsi.
Ia juga menegaskan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadhan, khususnya malam-malam ganjil, merupakan waktu yang sangat dianjurkan untuk menghidupkan ibadah dengan lebih khusyuk dan penuh keikhlasan.
“Momentum ini adalah kesempatan besar bagi umat Islam untuk memperkuat iman dan takwa. Para santri diajak untuk memanfaatkan malam-malam tersebut dengan memperbanyak amal ibadah agar mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah SWT,” tambahnya.
Bagi para santri, kegiatan ngalab berkah di malam Lailatul Qadar bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bentuk ikhtiar ruhani untuk meraih ridha Allah SWT serta memperkuat nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan semangat ukhuwah Islamiyah dan kebersamaan dalam ibadah, para santri dan jamaah berharap dapat meraih keutamaan malam Lailatul Qadar, sekaligus membawa keberkahan bagi diri mereka, keluarga, serta masyarakat luas.
Momentum spiritual tersebut menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang memperkuat keimanan, memperbanyak amal saleh, serta menumbuhkan cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
