Sidoarjo, Selendangsutra.id – Dewan Pengurus Wilayah Masyarakat Tradisi dan Adat (DPW MATRA) Jawa Timur menggelar konsolidasi struktural organisasi di Kabupaten Sidoarjo, Minggu (8/2/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Delta Sabha, Disporapar Pemkab Sidoarjo ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat barisan pelestarian budaya, penguatan identitas daerah, serta komitmen kebangsaan.
Sejak pagi, halaman Pendopo Delta Sabha tampak semarak dengan kehadiran sekitar 150 peserta yang mengenakan busana adat dan tradisional dari berbagai daerah. Suasana tersebut menghadirkan nuansa kultural yang kental, sekaligus menegaskan semangat persatuan dalam keberagaman.
Konsolidasi ini dihadiri perwakilan sejumlah Dewan Pengurus Daerah (DPD) MATRA dari berbagai kabupaten di Jawa Timur, di antaranya Pasuruan, Probolinggo, Jember, dan Tuban, serta unsur tokoh adat, budayawan, dan pemerhati kebudayaan.
Rangkaian acara dibuka dengan Tari Banjar Kemuning, tarian khas Sidoarjo yang sarat makna filosofis, sebagai simbol penghormatan terhadap nilai-nilai tradisi lokal.
Dalam agenda tersebut, Heru Arifianto, S.E. secara resmi menerima titah sebagai Nahkoda Utama MATRA Kabupaten Sidoarjo untuk masa bakti 2026–2031.
Dalam sambutannya, Heru menegaskan bahwa Sidoarjo tidak hanya dikenal sebagai daerah berbasis industri, tetapi juga memiliki kekayaan sejarah dan kebudayaan yang kuat.
“Sidoarjo bukan sekadar kawasan industri, tetapi juga daerah yang sarat nilai sejarah dan kebudayaan. Dalam konteks ini, kita mengenal warisan besar Jenggala Manik yang menjadi identitas dan kebanggaan bersama,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua DPW MATRA Jawa Timur KPP Srie Seputro Jowo Uja Ciptonagoro menekankan bahwa konsolidasi organisasi menjadi bagian penting dalam memperkuat peran MATRA di tengah dinamika sosial masyarakat.
“DPW MATRA Jatim telah melaksanakan konsolidasi dan melantik 18 DPD kabupaten/kota di Jawa Timur. “Kami tegaskan, MATRA bukan sekadar organisasi yang berorientasi pada kepentingan keraton semata, melainkan berkomitmen mendorong kemajuan budaya, peradaban, serta penguatan semangat Bela Negara,” tegasnya.
Menurutnya, pelestarian tradisi dan adat istiadat merupakan bagian integral dari upaya membangun karakter bangsa yang berakar pada nilai-nilai luhur nusantara, sekaligus menjadi benteng moral dalam menghadapi tantangan globalisasi.
Acara ditutup dengan doa lintas agama sebagai simbol persatuan, toleransi, dan komitmen kebangsaan, menandai paripurnanya kegiatan konsolidasi MATRA di Bumi Jenggala Manik.
Melalui kegiatan ini, DPW MATRA Jatim meneguhkan tekad untuk terus berperan aktif dalam menjaga, merawat, dan mengembangkan kekayaan tradisi serta adat istiadat sebagai fondasi peradaban bangsa yang berdaulat, bermartabat, dan berkarakter.
