Banyuwangi – Selendangsutra.id_ Tali persaudauraan dan silaturahmi harus tetap terjaga. Walaupun tak dapat berkumpul secara fisik, Budaya saling memaafkan dalam perayaan Idul Fitri lebih populer disebut halal-bihalal.

Halal bi halal sudah menjadi tradisi di negara-negara yang memiliki penduduk mayoritas umat muslim. Ini adalah refleksi ajaran Islam yang menekankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling memberi kasih sayang. Dalam pengertian halal-bihalal adalah acara maaf-memaafkan pada hari Lebaran. Lebaran merupakan pesta kemenangan umat Islam yang selama bulan Ramadhan telah berhasil melawan berbagai nafsu duniawi dan pesta kemenangan Lebaran ini diperuntukkan bagi umat Islam yang telah selesai melaksanakan ibadah puasa selama tiga puluh hari di bulan Ramadhan. Budaya saling memaafkan dalam perayaan Idul Fitri lebih populer disebut halal-bihalal.

Minggu (06/04/2025),Keluarga Besar Bani Abdul Muin menggelar acara halal bi halal yang bertempat di halaman pondok pesantren Tahfidhul Qur’an AL-FATIMIHAH di bawah asuhan Gus Rivan Zuhri Dengan Bu nyai Isti’anah Suyuti yang berlokasi di Dusun Tegalpare, Desa Wringinputih, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi Jatim.

Halal bi Halal yang rutin diadakan setiap tahun setelah perayaan Idul Fitri ini, menjadi media bagi Keluarga Besar Bani Abdul Muin untuk meningkatkan hubungan baik antar sanak famili,

moment halal bi halal yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB di hadiri oleh ratusan kepala keluarga dari berbagai keluarga besar yang ada di Banyuwangi maupun dari luar kota, seperti keluarga besar dari Tegaldlimo, Muncar, mfJajag, Jember, Bali, Denpasar, kalimantan, Minggu/06/04/2025.

Gus Rivan Zuhri dan Bu Nyai Isti’anah Suyuti selaku tuan rumah sekaligus pengasuh pondok pesantren Tahfidhul Qur’an AL-FATIMIHAH yang di wakili KH. Mufit Zubairi dalam Tausiyahnya menyampaikan tradisi halal bi halal menjadi sarana untuk merajut kembali hubungan persaudaraan yang retak, menyambung kembali tali silaturrahim yang renggang bahkan terputus, membangun rasa saling kasih kepada sesama manusia, karena kita semua tak pernah luput dari apa yang namanya dosa. Semoga kita yang telah usai melaksanakan ibadah di Bulan Suci Ramadhan dan telah mohon ampun kepada Allah SWT, serta proaktif merajut simponi kemanusian ditengah-tengah keluarga dan masyarakat, benar-benar temasuk bagian dari golongan umat muslim, golongan yang kembali kepada fitrah kesucian dan meraih kemenangan,”urainya
KH. Mufit Zubairi menceritakan awal terlaksananya reuni keluarga besar Bani Abdul Muin, berawal dari gagasan Almarhum Kyai Isma’il AL-MUKAROMAH yang akrab di panggil mbah ma’il, dalam momen halal bihalal menceritakan silsilahnya keluarga Besar Bani Abdul Mukn mulai dari keturunan dahulu sampai keturunan sekarang,” Bener KH.mufid.
Masih lanjut KH. Mufit Zubairi menambahkan Siraman rohani halal bi halal sebenarnya doa bagi umat muslim agar termasuk kedalam orang-orang yang baik dan termasuk kedalam orang-orang yang mendapat kemenangan. Sehingga silaturahmi menjadi teramat penting, hubungan silaturahmi antara kerabat keluarga maupun masyarakat harus selalu terjalin dengan baik demi kelangsungan umat beragama dan kesejahteraan masyarakat, Idul Fitri memiliki arti kembali kepada kesucian atau kembali ke asal kejadian. Idul Fitri diambil dari bahasa Arab, yaitu fitrah yang berarti suci semoga kesucian yang kita dapatkan, betul-betul kita mulai dari nol dan semua bersih. Mari kita mulai menyingsihkan lengan baju serta merajut kebersamaan.” urainya

Sementara di tempat yang sama, Sambutan dari KH. Fathulloh Suyuti Thoha selaku pengasuh pondok pesantren Mansya’ul Huda yang berlokasi di Desa Kedungwungu Kecamatan Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi Jatim mengajak untuk semua keluarga besar Bani Abdul Muin agar dapat saling memaafkan di momen hari raya idhul fitri 1446 H.
Marilah kita sama-sama saling memaafkan, dan saling menjaga ukhuwah islamiyah mulai dengan hati yang bersih agar langkah-langkah kedepan setelah idhul fitri dapat semakin baik”
Momentum pasca Idul Fitri perlu kita maknai sebagai semangat untuk membangkitkan jiwa, menjadi manusia baru yang lebih baik dari sebelumnya. Setelah sebulan penuh menahan lapar, dahaga, dan amarah, kita seharusnya menemukan versi terbaik dari diri kita: lebih sabar, lebih teratur, dan lebih reflektif.
Namun, yang sering luput dari kesadaran adalah bahwa Ramadan sebenarnya telah memberi kita kedisiplinan, tempat yang sempurna untuk membangun kebiasaan baru yang positif.
Kini, setelah perayaan Idul Fitri dan rutinitas kembali seperti semula, bagaimana menjadikan semangat spiritual dan kedisiplinan selama Ramadan,”ucapnya
KH. Suyuti Thoha memberi wejangan dan menyarankan untuk keluarga besar Bani Abdul Muin supaya kita semua Mengenali diri sendiri, memahami situasi, dan disiplin diri, tiga perihal pokok itu merupakan sikap meraih tujuan hidup bahagia yang bisa selamat dunia akhirat,
Halal Bi Halal Keluarga Besar Bani Abdul Muin, KH. Fathulloh Suyuti Thoha: Konsep Hidup Bahagia Dunia Akhirat
